Scroll ke bawah untuk membaca
Opini

Menyiapkan SDM Pertanian, Sebuah Keniscayaan Untuk Masa Depan Gorontalo

78
×

Menyiapkan SDM Pertanian, Sebuah Keniscayaan Untuk Masa Depan Gorontalo

Sebarkan artikel ini

GOSULUT.ID – Pembangunan pertanian saat ini tidak lagi hanya berbicara tentang lahan, benih, pupuk, dan alat mesin pertanian. Faktor yang paling menentukan keberhasilan sektor pertanian adalah kualitas sumber daya manusia (SDM) yang mengelolanya. Di tengah tantangan perubahan iklim, perkembangan teknologi, dan kebutuhan pangan yang terus meningkat, Indonesia, termasuk Provinsi Gorontalo, menghadapi persoalan serius yaitu regenerasi petani berjalan sangat lambat.

Kondisi ini menjadikan upaya menyiapkan SDM pertanian sebagai sebuah urgensi yang tidak dapat ditunda. Hasil Badan Pusat Statistik melalui Sensus Pertanian 2023 menunjukkan bahwa mayoritas petani Indonesia berada pada kelompok usia tua. Proporsi petani berusia di atas 55 tahun terus meningkat, sementara kelompok usia muda justru mengalami penurunan. Petani generasi X mencapai sekitar 42,39 persen, petani baby boomer 27,61 persen, sedangkan petani milenial hanya sekitar 25,61 persen. Data tersebut memberikan sinyal kuat bahwa sektor pertanian sedang menghadapi ancaman regenerasi. Jika tidak ada langkah strategis untuk menarik generasi muda masuk ke sektor pertanian, maka dalam beberapa tahun ke depan akan terjadi kekurangan tenaga kerja produktif di sektor yang justru menjadi penopang ketahanan pangan nasional.

Scroll untuk lanjut membaca
Advertisement

Di sisi lain, Sensus Pertanian 2023 juga mencatat terdapat lebih dari 27 juta petani di Indonesia dan sebagian besar masih merupakan petani skala kecil atau petani gurem. Kondisi ini menunjukkan bahwa peningkatan kualitas SDM menjadi kebutuhan mendesak agar produktivitas dan kesejahteraan petani dapat meningkat.

Selain faktor usia, kualitas pendidikan petani juga masih menjadi tantangan besar. Sebagian besar petani Indonesia masih didominasi oleh lulusan pendidikan dasar dan menengah. Kondisi ini berpengaruh terhadap kecepatan adopsi inovasi, penggunaan teknologi digital, pengelolaan usaha tani modern, hingga kemampuan membaca peluang pasar.

Padahal pertanian modern saat ini membutuhkan SDM yang tidak hanya mampu menanam dan memanen, tetapi juga memahami teknologi informasi, mekanisasi, pemasaran digital, pengolahan hasil, hingga kewirausahaan pertanian. Dengan kata lain, masa depan pertanian tidak cukup hanya mengandalkan pengalaman, tetapi juga membutuhkan kompetensi dan pendidikan yang memadai.

Urgensi pengembangan SDM pertanian sangat relevan dengan arah pembangunan Pemerintah Provinsi Gorontalo di bawah kepemimpinan Gubernur dan Wakil Gubernur Gorontalo yang menjadikan penguatan SDM dan pengembangan sektor Agromaritim sebagai program prioritas pembangunan daerah. Program Agromaritim diarahkan untuk memperkuat sektor pertanian, peternakan, perikanan, dan kelautan sebagai basis ekonomi masyarakat Gorontalo.

Namun keberhasilan program Agromaritim tidak akan tercapai tanpa SDM yang berkualitas. Infrastruktur pertanian dapat dibangun, bantuan sarana produksi dapat disalurkan, dan teknologi dapat disediakan, tetapi semua itu tidak akan memberikan hasil optimal apabila tidak didukung oleh generasi muda yang kompeten dan tertarik bekerja di sektor pertanian. Karena itu, program pembangunan SDM dan Agromaritim sesungguhnya merupakan dua agenda yang saling terkait dan tidak dapat dipisahkan. Salah satu indikator yang dapat dilihat secara langsung adalah rendahnya minat generasi muda untuk melanjutkan pendidikan pada sekolah-sekolah kejuruan bidang pertanian.

Di berbagai daerah, termasuk di Gorontalo, program keahlian pertanian di SMK sering kali belum menjadi pilihan utama lulusan SMP. Banyak orang tua dan siswa masih memandang pertanian sebagai pekerjaan yang kurang menjanjikan dibandingkan profesi lainnya. Akibatnya, jumlah pendaftar pada SMK bidang pertanian relatif lebih rendah dibandingkan jurusan-jurusan lain yang dianggap lebih modern atau memiliki prospek kerja lebih baik.

Paradigma seperti ini perlu diluruskan. Faktanya, sektor pertanian justru memiliki peluang kerja yang sangat luas. Mulai dari budidaya tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, peternakan, agribisnis, penyuluhan, industri benih, industri pupuk, mekanisasi pertanian, pengolahan hasil pertanian, hingga pertanian berbasis teknologi digital dan kecerdasan buatan. Pertanian saat ini bukan lagi identik dengan cangkul dan lumpur semata. Pertanian modern telah berkembang menjadi sektor usaha yang membutuhkan kemampuan manajerial, teknologi, dan inovasi.

Gorontalo dikenal sebagai salah satu daerah yang memiliki potensi besar pada sektor pertanian dan perikanan. Jagung, kelapa, kakao, sapi potong, perikanan tangkap, serta berbagai komoditas unggulan lainnya menjadi tulang punggung ekonomi daerah. Potensi tersebut akan sulit berkembang secara maksimal apabila tidak tersedia SDM yang siap mengelolanya.

Di sinilah pentingnya investasi pada pendidikan pertanian, pelatihan vokasi, penguatan penyuluhan, pengembangan petani milenial, serta peningkatan kapasitas generasi muda sejak bangku sekolah.

Meningkatkan minat generasi muda terhadap pertanian bukan hanya tugas pemerintah. Dibutuhkan keterlibatan seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah daerah, dunia pendidikan, perguruan tinggi, penyuluh pertanian, organisasi petani, dunia usaha, media massa, hingga keluarga. Semua pihak harus memiliki persepsi yang sama bahwa pertanian merupakan sektor strategis dan menjanjikan.

Edukasi kepada masyarakat perlu dilakukan secara berkelanjutan untuk mengubah stigma bahwa pertanian adalah pekerjaan yang tidak menjanjikan. Sebaliknya, masyarakat perlu diperlihatkan bahwa sektor pertanian memiliki peluang usaha yang besar, kebutuhan tenaga kerja yang tinggi, serta peran yang sangat penting dalam menjaga ketahanan pangan dan perekonomian daerah.

Menyiapkan SDM pertanian bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan mendesak. Data menunjukkan bahwa petani Indonesia semakin menua, sementara minat generasi muda terhadap sektor pertanian masih rendah. Di tengah cita-cita besar pembangunan SDM unggul dan Agromaritim di Gorontalo, regenerasi petani harus menjadi agenda bersama.

Jika seluruh stakeholder mampu membangun persepsi yang sama dan memberikan edukasi yang tepat kepada masyarakat, maka pertanian akan kembali menjadi sektor yang menarik bagi generasi muda. Dengan SDM yang berkualitas, Gorontalo tidak hanya mampu mempertahankan posisinya sebagai daerah agraris, tetapi juga menjadi pusat pertumbuhan ekonomi Agromaritim yang maju, mandiri, dan berkelanjutan.

Penulis: Jamaluddin Hamid (Pemerhati Pertanian)

Share :  
error: Content is protected !!