Scroll ke bawah untuk membaca
Provinsi Gorontalo

Songsong Tahun 2026, BI: Tantangan dan Peluang Pengaruhi Pertumbuhan Ekonomi Gorontalo

228
×

Songsong Tahun 2026, BI: Tantangan dan Peluang Pengaruhi Pertumbuhan Ekonomi Gorontalo

Sebarkan artikel ini

GOSULUT.ID – Menyongsong tahun 2026 yang sudah didepan mata, terdapat beberapa peluang dan tantangan yang dapat berpengaruh terhadap perkembangan perekonomian tahun 2026.

Hal ini diungkapkan Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Gorontalo, Bambang Satya Permana pada Gorontalo Economic Outlook, Selasa (04/11/2025).

Scroll untuk lanjut membaca
Advertisement

Dijelaskan, dari sisi peluang, sektor pertanian diproyeksikan tetap menjadi penopang utama ekonomi daerah seiring dengan peningkatan target produksi jagung nasional, penyelesaian pembangunan Bendungan Bulango Ulu yang akan memperluas cakupan irigasi teknis, serta program cetak sawah baru.

“Selain itu, potensi pertumbuhan juga datang dari sektor pertambangan dan industri pengolahan, terutama dengan adanya eskalasi kegiatan pertambangan dan pengolahan emas di Kabupaten Pohuwato, meningkatnya produksi industri pelet kayu, serta harga komoditas kelapa yang menunjukkan tren kenaikan,” jelasnya.

Namun demikian Bambang mengingatkan, masih terdapat sejumlah tantangan yang perlu diantisipasi, antara lain belum optimalnya hilirisasi produk pertanian khususnya jagung, potensi penurunan transfer ke daerah (TKD) yang dapat menekan kapasitas fiskal daerah,

“Serta berakhirnya proyek strategis nasional (PSN) Bendungan Bulango Ulu yang sebelumnya menjadi motor pertumbuhan investasi di Gorontalo,” imbuhnya.

Bambang menyampaikan, menjawab berbagai peluang dan tantangan tersebut, Bank Indonesia memberikan rekomendasi kebijakan untuk mengakselerasi pertumbuhan ekonomi Gorontalo yang inklusif dan berkelanjutan di tahun 2026, antara lain:

1. Mendorong hilirisasi berbasis komoditas lokal seperti jagung, kelapa, sapi, dan perikanan untuk menciptakan nilai tambah serta memperkuat sektor perdagangan daerah, termasuk membangun ekosistem supply chain melalui konsep Model Business Group (MBG).

2. Meningkatkan produktivitas pertanian melalui frugal innovation dengan mengadopsi teknologi, smart farming, serta mendorong pertanian organik yang efisien dan berkelanjutan.

3. Memperkuat sinergi dan kolaborasi antara pemerintah dan swasta untuk menarik investasi, antara lain melalui pembangunan kawasan industri berbasis komoditas unggulan, penguatan fungsi promosi investasi daerah, serta mendorong pembiayaan kreatif seperti skema KPBU untuk proyek infrastruktur daerah.

4. Mengakselerasi inovasi Pemerintah Daerah dalam meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD)melalui:

a) Peningkatan pajak hotel dan restoran seiring optimalisasi potensi pariwisata, termasuk pembukaan rute penerbangan langsung antara Gorontalo dan kota besar seperti Jakarta, Manado, dan Bali (via Makassar), serta pemanfaatan momentum penyelenggaraan Pekan Nasional Petani Nelayan (PENAS) untuk promosi wisata Gorontalo.

b) Digitalisasi pembayaran pajak dan retribusi daerah guna mempermudah masyarakat membayar pajak, termasuk integrasi pembayaran PKB online dan penerapan QRIS di area publik.

5. Penguatan kapasitas SDM daerah, dengan mendorong peningkatan jumlah tenaga kerja formal melalui pendidikan vokasi dan kejuruan yang terhubung dengan industri, serta optimalisasi partisipasi lulusan Gorontalo dalam program magang nasional.

6. Mendorong pembiayaan kepada UMKM di sektor unggulan melalui pemberdayaan Koperasi dan BUMD sebagai offtaker produk unggulan lokal serta peningkatan kapasitas pendamping UMKM.

7. Mendorong peningkatan produktivitas dan jangkauan pasar UMKM lokal melalui program onboarding digital, pendampingan pemasaran, serta fasilitasi pameran dan promosi ke luar daerah.

Bambang menegaskan bahwa sinergi antara Pemerintah Daerah, dunia usaha, lembaga keuangan, dan masyarakat menjadi kunci dalam mewujudkan Gorontalo yang maju, inklusif, dan berdaya saing.

“BI Gorontalo berkomitmen untuk terus memperkuat koordinasi dan kolaborasi kebijakan dengan seluruh pemangku kepentingan, khususnya dalam rangka menjaga stabilitas harga, memperluas kesempatan kerja, dan memperkuat struktur ekonomi daerah yang berkelanjutan,” pungkasnya.

Share :  
error: Content is protected !!