GOSULUT.ID – Langit Bongohulawa seolah mengerti makna perpisahan. Di hari penutupan Perkemahan Satuan Karya Nasional, awan kelabu bergelayut di atas bumi perkemahan, menghadirkan gerimis kecil yang turun dengan lembut seolah menjadi air mata alam yang enggan berpisah dengan riuh tawa peserta.
Beberapa hari pelaksanaan Peran Saka, hujan turun bukan sekadar cuaca, ia adalah simbol penyucian, penanda berakhirnya satu babak penuh cerita, sekaligus awal bagi perjalanan baru setelah sekian hari pembelajaran, persaudaraan dan perjuangan.
Selama perkemahan berlangsung, Bongohulawa menjadi panggung kebersamaan yang tak mengenal batas daerah. Panas terik siang hari tak memadamkan semangat para kontingen yang sibuk mengikuti kegiatan di setiap satuan karya—dari Saka Bahari yang mengajarkan disiplin laut, Saka Bhayangkara yang menanamkan ketegasan dan kepedulian sosial, hingga Saka Wira Kartika yang menumbuhkan jiwa patriotik dan tangguh.
Setiap kegiatan menjadi ruang belajar hidup yang sesungguhnya, di mana kerja sama, ketulusan, dan tanggung jawab diuji bukan di ruang kelas, melainkan di alam terbuka yang jujur dan penuh tantangan.
Malam hari di Bongohulawa berubah menjadi ruang perjumpaan budaya dan inspirasi. Lampu-lampu tenda berpendar seperti bintang yang turun ke bumi, menemani deretan kegiatan malam: pentas seni, api unggun, hingga diskusi santai bersama para tokoh yang hadir. Dari mereka, peserta belajar bahwa kesuksesan lahir dari ketekunan dan keberanian untuk gagal.
Alunan musik mengiringi malam dengan syahdu, mengikat suasana hangat di tengah udara yang menggigit. Di sela-sela itu, secangkir Kopi Dulamayo menjadi teman setia aromanya yang khas mengusir dingin malam dan menghadirkan kehangatan sederhana yang sulit dilupakan.

Keramahan tuan rumah menjadi cerita tersendiri. Warga Bongohulawa menyambut setiap tamu dengan senyum tulus dan tangan terbuka. Di area pasar UMKM yang digelar selama perkemahan, ragam produk lokal menggoda mata dan rasa mulai dari kerajinan tangan, panganan tradisional, hingga kopi dan jagung bakar hasil bumi setempat. Di sana, ekonomi kreatif dan semangat kemandirian berpadu dalam harmoni, menunjukkan bahwa perkemahan bukan hanya ajang kegiatan, tapi juga wadah pemberdayaan masyarakat.
Menjelang penutupan, semarak Karnaval Budaya Nusantara dan Festival Kuliner menambah warna perpisahan. Suara musik tradisional berpadu dengan tawa riang para peserta yang menari di bawah langit pagi jelang siang. Setiap langkah mereka seolah menegaskan bahwa keberagaman bukan alasan untuk berjarak, melainkan jembatan untuk memahami satu sama lain. Di antara tenda yang mulai dikemas dan bendera yang diturunkan, rasa haru menjelma dalam pelukan, tawa, dan janji untuk bertemu lagi di kesempatan lain.
Dan kini, tibalah saatnya mengucap selamat jalan kepada seluruh peserta Perkemahan Satuan Karya Nasional. Dari Bongohulawa, kami melepas langkah kalian kembali ke provinsi masing-masing dengan doa yang tulus, semoga pengalaman, pengetahuan dan persaudaraan yang tumbuh di bumi perkemahan ini menjadi bekal berharga untuk terus mengabdi bagi masyarakat, bangsa dan negara.
Atas nama tuan rumah, kami juga menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya atas segala kealpaan, kekurangan, dan ketidaksempurnaan selama kegiatan berlangsung. Kami menyadari, di tengah semangat besar yang kita rajut bersama, mungkin ada hal-hal yang belum sesuai harapan. Namun yakinlah, setiap langkah, kerja, dan keputusan telah di upayakan dengan sepenuh hati demi memberikan pengalaman terbaik bagi seluruh peserta.
Perkemahan di Bumi Bongohulawa berakhir, namun nilai yang tertanam di dalamnya akan tetap hidup, ketangguhan di bawah panas, keteguhan di tengah hujan, serta kehangatan di antara perbedaan.
Seperti bumi yang menumbuhkan kembali benih setelah hujan, setiap peserta pulang dengan semangat baru—membawa cerita, inspirasi, dan keyakinan bahwa kebersamaan adalah kekuatan yang sesungguhnya.
Penulis: Dr. Bambang Supriyanto (Perencana Bappelitbangda Kabupaten Gorontalo)







