GOSULUT.ID – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat anjlok ke level Rp17.500/US$, Selasa (12/05/2026). Level tersebut menjadi yang terlemah sepanjang sejarah mata uang Garuda.
Merujuk data Refinitiv, rupiah melemah hingga Rp17.500/US$ pada pukul 09.15 WIB. Pada pembukaan pasar, rupiah sudah tertekan di zona merah dengan pelemahan 0,43% ke posisi Rp17.480/US$. Di saat yang sama, Indeks Dolar AS (DXY) menguat 0,21% ke level 98,115.
Tekanan terhadap rupiah datang dari meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Presiden AS Donald Trump menyebut gencatan senjata dengan Iran kini “di ujung tanduk” setelah Teheran menolak proposal Washington untuk mengakhiri konflik.
Iran menuntut penghentian konflik di semua front, termasuk Lebanon, kompensasi kerusakan perang, pencabutan blokade laut AS, jaminan tidak ada serangan lanjutan, dan pemulihan ekspor minyaknya. Teheran juga menegaskan kendali atas Selat Hormuz, jalur yang mengalirkan sekitar 20% pasokan minyak dan gas dunia.
Trump menyebut respons Iran “sama sekali tidak dapat diterima” dan menegaskan gencatan senjata sejak 7 April kini sangat rapuh. Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf memperingatkan militer Iran siap merespons setiap agresi.
Kebuntuan diplomatik itu mendorong harga minyak Brent Crude melonjak lebih dari 3% ke atas US$104 per barel. Arus kapal melalui Selat Hormuz menyusut drastis, memaksa produsen memangkas ekspor dan menekan pasokan global.
Sentimen negatif makin kuat setelah AS menjatuhkan sanksi baru terhadap pihak yang membantu Iran mengekspor minyak ke China.
Sementara itu, Trump dijadwalkan bertemu Presiden Xi Jinping di Beijing pada Rabu (13/5/2026). Isu Iran diprediksi menjadi salah satu agenda utama dalam pertemuan tersebut.







