Scroll ke bawah untuk membaca
Legislatif

PENAS 2026, Rahmijati Jahja: Jangan Hanya Seremonial, Harus Beri Manfaat Signifikan bagi Petani dan Nelayan

391
×

PENAS 2026, Rahmijati Jahja: Jangan Hanya Seremonial, Harus Beri Manfaat Signifikan bagi Petani dan Nelayan

Sebarkan artikel ini
Anggota DPD RI dapil Gorontalo Rahmijati Jahja.

GOSULUT.ID – Anggota DPD RI Rahmijati Jahja menyoroti agenda Pekan Nasional (PENAS) Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) XVII yang akan dilaksanakan di Provinsi Gorontalo pada Juni 2026 mendatang.

Menurut Rahmijati, kegiatan tersebut bertujuan untuk mendorong modernisasi pertanian melalui inovasi teknologi, mekanisme, serta penguatan kapasitas SDM petani dan nelayan.

Scroll untuk lanjut membaca
Advertisement

“Sehingganya ajang PENAS 2026 ini jangan hanya sekedar seremonial, harus memberikan nilai manfaat yang signifikan, supaya petani nelayan makin berjaya dan Indonesia benar-benar menjadi lumbung pangan 2045 sebagaimana harapan kita semua,” ujar Rahmijati Jahja kepada Gosulut.id, Rabu (01/04/2026).

Senator Gorontalo itu pun menekankan, agenda berskala nasional tersebut juga harus menjadi platform untuk mempromosikan produk pertanian dan perikanan lokal, serta meningkatkan akses pasar bagi petani dan nelayan.

“Kami berharap pemerintah dapat memberikan dukungan yang signifikan bagi petani dan nelayan, sehingga mereka dapat meningkatkan produksi dan produktivitas mereka,” tegasnya.

Rahmijati yang telah menjabat sebagai Anggota DPD RI selama empat periode ini membeberkan sejumlah permasalahan mendasar dalam kehidupan pertanian di Indonesia, diantaranya minim regenerasi petani hingga belum efektifnya asuransi pertanian.

“Saat ini, permasalahan yang dihadapi pertanian kita adalah minimnya regenerasi petani, kualitas SDM dan penyuluh pertanian. Tidak hanya itu, struktur penguasaan lahan pertanian masih timpang. Alih fungsi lahan pertanian ke non-pertanian semakin masif, sehingga mengancam keberlanjutan ketahanan pangan secara nasional,” bebernya.

“Akses petani terhadap sarana produksi dan pembiayaan masih rendah. Kemudian kelembagaan petani dan rantai pasok pertanian belum berjalan optimal. Kerentanan sektor pertanian terhadap dampak perubahan iklim global yang belum tertangani secara sistemik serta belum efektifnya asuransi pertanian,” tambah Rahmijati Jahja.

Oleh sebab itu, lewat pelaksanaan PENAS 2026 di Gorontalo yang mengusung tema “Transformasi Teknologi Dalam Mendorong Program Swasembada Pangan Guna Mewujudkan Indonesia Lumbung Pangan Dunia Tahun 2045”, berbagai permasalahan dalam sektor pertanian bisa teratasi.

“Saya pun berharap bukan hanya petani dan nelayan saja yang sejahtera, tetapi juga seluruh perangkat yang terlibat langsung, terutama para penyuluh. Agar dalam menjalankan tugas terjalin komunikasi intens antara petani dan penyuluh,” tandasnya.

Share :  
error: Content is protected !!