Scroll ke bawah untuk membaca
Kabupaten GorontaloViral

Viral, Pelayanan Puskesmas Dungaliyo Dikeluhkan: Pasien BPJS Seperti Diabaikan

1089
×

Viral, Pelayanan Puskesmas Dungaliyo Dikeluhkan: Pasien BPJS Seperti Diabaikan

Sebarkan artikel ini
Puskesmas Dungaliyo. (Foto: Aldy/Gosulut)

GOSULUT.ID – Salah satu warga di Kecamatan Dungaliyo, Afliani Hikma mengeluhkan pelayanan kesehatan yang ada di Puskesmas Dungaliyo melalui media sosial miliknya dan telah viral.

Keluhan itu berawal saat Afliani mendatangi Puskesmas Dungaliyo karena mengalami pusing dan lemas yang telah dialami selama seminggu.

Scroll untuk lanjut membaca
Advertisement

Setibanya di Puskesmas Dungaliyo, ia langsung mendaftar, kemudian diperiksa seperti tensi darah dan timbangan berat badan oleh perawat, setelah itu Afliani disuruh untuk menunggu dan akan dipanggil kembali guna mendapatkan pemeriksaan oleh dokter.

“Tapi karena sudah lama menunggu, saya tanyakan ke perawat, apakah masih lama? Sebab cuman saya sendiri (yang menunggu) tidak ada pasien lain. Kemudian perawat menjawab oh iya masuk saja. Setelah diruangan dengan posisi duduk saya dan dokter jauh, saya sampaikan keluhan,” ujar Afliani Hikma kepada awak media, Rabu (17/09/2025).

Ia terkejut ketika sang dokter mengeluarkan kata-kata menyinggung dengan menyebutkan bahwa dirinya tidak makan sehingga mengalami pusing dan lemas.

“Dia (dokter) langsung keluarkan suara begini, aduh ibu ini tidak makan-makan dan sebagainya, gula darah ibu rendah karena itu. Setidaknya sebagai dokter, dia menyampaikan dengan (nada yang) baik kepada saya sebagai pasien,” ucapnya.

Afliani pun merasa tersinggung dan sakit hati mendengar ucapan yang tidak seharusnya disampaikan oleh seorang dokter.

“Habis itu saya duduk diam, lalu dia (dokter) bilang pergi ke apotik saja nanti ambil obat disana (padahal belum diperiksa). Terus saya tanyakan, (apakah) saya ini tidak diperiksa gula darah dan asam urat? Kemudian saya diarahkan ke lab untuk memeriksa gula darah serta asam urat,” imbuhnya.

“Setelah saya ke lab, ternyata alat untuk periksa gula darah dan asam urat tidak ada. Lalu saya kembali mendatangi dokter dan memberitahukan bahwa alatnya tidak ada. Kemudian perawat disitu menanyakan ke perawat lain apakah ada stik (alat) gula darah, lalu mereka jawab tidak ada. (Jadi) macam tidak ada itu usaha mereka, biar pasien bisa ditangani. Mereka (perawar) cuman kesana kemari, karena saya juga sudah sakit hati, saya balik lagi ke apotek,” tambah Afliani Hikma.

Lebih lanjut, dia menyebutkan, bahwa setelah tiba di apotik puskesmas, namanya tidak kunjung dipanggil untuk mengambil obat.

“(Karena) menunggu (agak lama), saya tanya (ke petugas di apotik) apakah nama saya tidak ada? Dan jawaban petugas disitu tidak ada belum diinput. Lalu saya duduk kembali, menunggu. Kemudian saya tanya lagi apakah nama saya sudah ada? Tapi jawaban mereka tetap sama (tidak ada),” katanya.

“Sudah terlalu lama menunggu, tubuh saya juga sudah sakit (tambah lemas), kemudian suami saya juga mau berangkat kerja, saya kembali menanyakan (untuk ketiga kalinya) apakah masih belum ada nama saya? Terus mereka (petugas di apotik) bertanya apakah saya sudah diperiksa oleh dokter,” tambah Afliani.

Mendapat respon demikian, Afliani mengaku kecewa dan menilai dirinya selaku pasien BPJS seakan-akan diabaikan serta tidak mendapatkan pelayanan kesehatan sebagaimana seharusnya.

“Karena kesabaran saya sudah habis, jadi saya bilang biar saja, saya mau pulang,” tandasnya.

Share :  
error: Content is protected !!