GOSULUT.ID – Caretaker Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Provinsi Gorontalo sekaligus Ketua Umum Koalisi Kabupaten Penghasil Kelapa (KOPEK), Nelson Pomalingo, menilai penyelenggaraan Pekan Nasional (PENAS) XVII Tahun 2026 di Gorontalo merupakan momentum strategis untuk mempromosikan daerah sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani dan nelayan. Sebagai provinsi yang relatif muda, Gorontalo membutuhkan ruang untuk memperkenalkan potensi yang dimiliki kepada masyarakat luas, termasuk para investor.
“PENAS tidak hanya membuat orang mengenal Gorontalo, tetapi juga menjadi alat promosi yang sangat efektif. Jika promosi berjalan baik, maka investasi akan datang ke Gorontalo. Kita membutuhkan investasi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi daerah,”ungkapnya.
Selain menjadi sarana promosi, PENAS XVII juga diharapkan menjadi wadah pembelajaran bagi petani, nelayan, pelaku usaha, serta pemerintah daerah. Berbagai inovasi dan teknologi di bidang pertanian dan perikanan akan ditampilkan dalam kegiatan tersebut.
Karena itu, Nelson mengajak seluruh pihak untuk menyukseskan pelaksanaan PENAS melalui koordinasi dan kerja sama yang baik. Ia juga berharap momentum tersebut dimanfaatkan untuk menyampaikan berbagai aspirasi pembangunan daerah kepada pemerintah pusat.
“Kalau Presiden dan Wakil Presiden hadir, kita harus menyiapkan dengan baik apa yang menjadi kebutuhan daerah. Tidak cukup hanya disampaikan secara lisan, tetapi harus dalam bentuk proposal dan dokumen yang jelas,” tegasnya.
Nelson berharap berbagai inovasi dan teknologi yang dipamerkan selama PENAS dapat diadopsi oleh petani dan nelayan di Gorontalo. Selain itu, kegiatan tersebut juga diharapkan membuka peluang kerja sama bisnis dan investasi baru melalui interaksi antara petani, nelayan, pelaku usaha, dan investor dari berbagai daerah.
Ia mendorong mahasiswa pertanian, mahasiswa perikanan, siswa SMK pertanian dan perikanan, serta para guru untuk memanfaatkan PENAS sebagai sarana belajar dan pengembangan kapasitas sumber daya manusia.
“PENAS ini harus menjadi laboratorium bagi mahasiswa, siswa, dan generasi muda. Datanglah ke sana untuk belajar, melihat inovasi, dan memperluas wawasan,” katanya.
Selain itu harapannya, penyelenggaraan PENAS XVII tidak hanya memberikan dampak ekonomi jangka pendek melalui pergerakan UMKM dan pembangunan infrastruktur, tetapi juga mampu menciptakan dampak berkelanjutan bagi masyarakat.
“Yang paling penting adalah terciptanya interaksi ekonomi, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta tumbuhnya semangat para petani dan nelayan Itu yang diharapkan dari pelaksanaan PENAS di Gorontalo,” pungkasnya.
Mantan Bupati Gorontalo dua periode ini menuturkan secara ringkas perjuangan menjadikan Gorontalo sebagai tuan rumah PENAS XVII telah dimulai sejak tahun 2022 saat pelaksanaan PENAS di Padang, Sumatera Barat. Upaya tersebut berlanjut pada kegiatan Pra PENAS di Bali hingga beberapa kali kunjungan panitia nasional ke Gorontalo untuk menilai kesiapan daerah.
“PENAS ini kita rintis sejak tahun 2022 saat di Padang. Kemudian dilanjutkan pada Pra PENAS di Bali. Setelah itu panitia nasional beberapa kali datang ke Gorontalo untuk melihat kesiapan kita. Setelah melalui berbagai tahapan penilaian, akhirnya Gorontalo resmi ditetapkan sebagai tuan rumah,” kata Nelson.
Ia mengungkapkan, proses penetapan tuan rumah tidak berjalan mudah. Saat Pra PENAS di Bali, sempat muncul usulan agar pelaksanaan kegiatan dipindahkan ke daerah lain karena Gorontalo dianggap memiliki keterbatasan infrastruktur.
Namun, berkat perjuangan pemerintah provinsi dan kabupaten/kota di tingkat nasional, serta dukungan berbagai pihak, Gorontalo akhirnya mampu meyakinkan panitia nasional untuk menjadi tuan rumah PENAS XVII.
“Kami bersyukur karena pemerintah provinsi dan kabupaten benar-benar berjuang di tingkat nasional. Saat itu saya masih menjabat sebagai Bupati Gorontalo dan ikut memperjuangkan agar kegiatan ini tetap dilaksanakan di Gorontalo,” imbuhnya.
Dikatakan, keyakinan panitia nasional tidak hanya didasarkan pada kesiapan infrastruktur, tetapi juga pada semangat dan sinergi yang ditunjukkan seluruh daerah di Provinsi Gorontalo.
“Mereka melihat langsung kondisi di lapangan. Walaupun ada keterbatasan, yang paling utama adalah semangat dan sinergi seluruh daerah di Gorontalo. Itu yang membuat panitia nasional yakin dan akhirnya menetapkan Gorontalo sebagai tuan rumah,” tutupnya






























