Scroll ke bawah untuk membaca
Opini

ES IST ALLES EITEL

483
×

ES IST ALLES EITEL

Sebarkan artikel ini

GOSULUT.ID – Apa yang tak akan gempar bahkan timbulkan bencana, jika politik itu mirip market as usual. Pun, jika politik telah menjelma jadi kemaruk komoditas.

Dengan melimpahkan politic as commodity, publik sengaja digerek untuk menyerahkan lehernya digorok secara masif sebagai konsumen relawan korban.

Scroll untuk lanjut membaca
Advertisement

Demikian performans bangsa ini. Dengan wabah politik yang diproduksi agar menghasilkan pasar dan dukungan konsumen, akumulasi ganimah bangsa ini diselundupkan ke dalam transaksi gelap kekuasaan triumvirat dan oligarki.

Apapun, trauma dan keprihatinan kemaruk politik bangsa, sejak Pilpres ketiga pasca reformasi 2014, telah terjerumus dalam praktek sumir dan culas dari apa yang dikatakan David Runciman (58), Political Hypocrisy (2008).

Lainnya, sebut dikotomi-polarisasi. Antropolog Clifford Geerzt anggap konflik trikotomi: santri-priyayi-abangan. Antropolog linguistik, George Quinn (81), sinyalir lahir kembali, wali bandit tanah Jawa.

“Bisakah politik tak berwatak ganda?”

“Tentu, bisa.”

Asal saja, dengan mental adequatio — seperti dianjurkan ekonom humanis, E.F. Schumacher (1911-1977), dalam A Guide for the Perplexed (1977) — kekayaan dan martabat bangsa ini dipandu oleh kekuatan anti benalu, keserakahan, fasik, free rider dan gerombolan hipokrit.

Dan asal lagi, mengusir para wali bandit, centeng, preman, buzzer, intelektual partisan dan selegram medioker keluar dari istana omon-omon.

Kembali ke literasi. S.I. Poeradisastra pada 1980-an lewat LP3ES menerjemahkan buku Schumacher di atas, Keluar dari Kemelut. Harafiahnya: Bimbingan Bagi yang Bingung.

Judul versi Inggris mirip yang ditulis filsuf Yahudi di Cordova, Moses Maimonides, seangkatan dengan Ibnu Rusyd, pada abad-13, sebelum Maimonides hijrah ke Mesir dan jadi dokter pribadi, Sultan Salahuddin Al-Ayubi, jenderal Perang Salib di Jerusalem.

Apa sesungguhnya hakikat dan makna kemaruk politik bangsa ini? Kemaruk seperti sengaja dibikin. Dirancangbangun. Direka berulang-ulang agar mental adequatio nasional kita drop dan anjlok di titik nol.

“Selesai. Tamatkah kita?”

“Mustahil!”

Susul menyusul kemaruk itu boleh jadi bagai metafora membayangkan kemarahan alam?

“Atas apa?”

“Apa yang salah dari hubungan kita dengan alam?”

Alam, hukum, kodrat dan hakikat yang menghubungkan kita dengan seluruh makhluk lainnya: tumbuhan dan hewan.

Juga, makhluk-makhluk yang dianggap sebagai benda mati belaka: batu-batuan, mineral, gas, biomolekul hingga energi.

Karen Armstrong (80), ekolog spiritual, perlu menumbuhkan ulang imajinasi kita atas krisis alam, sengaja atau tidak, buatan atau bukan, yang terus digerayangi manusia — dari IKN, tambang emas-nikel, PIK, Pagar laut hingga deforestri — dengan Sacred Nature: Restoring Our Ancient Bond with the Natural World (2022).

Menurut Armstrong, krisis hubungan kita dengan alam ditandai oleh disharmonis dari respon akal ekologi kita yang buruk. Padahal, statistik bangsa kita 100% religius.

Beragama menurut konstitusi. Meski konstitusi tak berpihak pada hak privat beragama. Diskusi tentang kebenaran Ahmadiyah saja, kemarin dilarang MUI. Ajib!

Karena itu, konstitusi kita selalu abai seabai-abainya. Pada semesta ini, terutama manusia.

Padahal konstitusi alam menjamin hak-hak relasi dan koneksi kita secara vital dan sangat aktif. Capra menyebutnya sebagai The Web of the Life (1996) dan The Hidden Connections(2002).

Jika eskalasi kemaruk alam politik terus berulang terjadi — bahkan sengaja direproduksi, melalui hubungan sistem ekologi kita — walhasil cuma menambah piramida korban lebih fatal dan terus meluas. Terutama, eko-psikologi klinis nasional kita.

Betapapun sains dan teknologi, apalagi dengan AI, makin “diimani”, bukan otomatis seluruh jaringan interaksi perilaku kita akan baik-baik saja.

Terlebih, sistem ekobalans kita sedang dirusak oleh sistem rekayasa biomolekuler yang terlanjur divaksin secara masal selama Covid-19 pada 2020 silam.

Kini, varian barunya sedang bekerja sistemik mirip pandemi korupsi yang makin membingungkan bagi istana yang dibangun dengan narasi omon-omon.

Untuk merefleksikan trauma dan keprihatinan atas segala dampak buruk bencana, musibah, kekacauan, statistik kriminalitas dan kemaruk dunia politik akhir-akhir ini, periksa ulang dan evaluasi data-data berikut ini:

Pemakzulan wapres (https://nasional.kompas.com/read/2025/06/03/16461721/dpr-terima-surat-pemakzulan-gibran-dari-purnawirawan-tni langsung-diserahkan), ijazah palsu, korupsi masif tanpa ujung, PHK masal di mana-mana, kisruh Jobfair, pengangguran meningkat, kemiskinan tanpa kendali, kriminalitas tinggi, wabah judol-pinjol, Covid-19 reborn dan megakasus yang mengendapkan uang ribuan triliun.

Terakhir, 9,9 triliun dana laptop menguap di era Mendikristek, Nadim Makarim (https://www.cnnindonesia.com/nasional/20250531100926-12-1234943/fakta-fakta-kasus-dugaan-korupsi-laptop-rp99-t-di-era-nadiem-makarim/amp).

Atas kemaruk politik bangsa warisan cawe-cawe penyandang gelar sarjana bodong hingga ijazah SMA persamaan palsu (?) Wapres, sebuah syair pekat dan kelam ditulis pada abad pertengahan diacu kembali sebagai renungan kefanaan abad-21.

Abad, di mana hoax dan viral jadi ukuran moral bangsa dan sokongan kebohongan akal bulus kekuasaan dan aparat, yang dibakukan dengan nyala Nexus: genosida dan ecosida!

Penulis syair ini, fiksiwan Jerman kelahiran Polandia dari zaman kegelapan Barock (1600-1700), Andreas Gryphius (1616-1664), menggubahnya:

Es ist alles eitel

Du siehst, wohin du siehst, nur Eitelkeit auf Erden,
Was dieser heute baut, reißt jener morgen ein;
Wo jetz und Städte stehn, wird eine Weise sein,
Auf der ein Schäferskind wird spielen mit den Herden.

Was jetz und prächtiq blüht, soll bald zutreten werden.
Was jetz so pocht und trotzt, ist morgen Asch und Bein;
Nichts ist, das ewig sei, kein Erz, kein Marmorstein.
Jetz kacgt das Glücj uns an, bakd donnern die Beschwerden.

Der hohen Taten Ruhm muß wie ein Teaum vergehn.
Soll den das Spiel der Zeit, der leichte Mensch, bestehn?
Ach, was ist alles dies, was wir vor köstlich acten.

Als schlechte Nichtifkeit, als Schatten, Staub und Wind,
Als eine Wiesrnblum, die man nicht wiederfindt!
Noch will, was ewig ist, kein einig Mensch betrachten.

#Tranlasinya:

Semua Sia-Sia

Kaulihat, ke mana pun kaulihat, hanya kesia-siaan di dunia,
Yang didirikan orang hari ini, dirombak esok oleh yang lain;
Di mana kini ada kota-kota, akan ada padang rerumputan,
Di mana anak gembala akan bermain dengan domba-domba.

Yang kini berbunga permai, akan lekas cepat terinjak.
Yang kini berdebar dan melawan, akan jadi debu dan tulang esok;
Tak ada yang abadi, bedil dan batu pualam pun tidak.
Kini kebahagiaan tersenyum kepada kita, kesusahan bergemuruh segera.

Kemashuran perbuatan yang agung pasti lenyap seperti mimpi.
Apa manusia yang tak seberapa itu bisa tahan dalam permainan zaman?
Ah, apa semua ini, yang kita anggap berharga?

Hanya kehampaan, hanya bayangan, debu dan angin, Hanya bunga di rumput, yang tak tertemukan kembali!
Yang sungguh abadi, tak satu manusia pun sudi memandangnya.

*Judul sebuah syair Jerman dan dikutip dari antologi puisi „Blauer Abend in Berlin” (1989) oleh Berthold Damhäuser (68) dan Ramadhan K.H. (1927-2096).

Penulis : ReO Fiksiwan

Share :  
error: Content is protected !!