Scroll ke bawah untuk membaca
Opini

Antrian BBM: Cerita Kegagalan Yang Tidak Bisa Diabaikan

48
×

Antrian BBM: Cerita Kegagalan Yang Tidak Bisa Diabaikan

Sebarkan artikel ini

GOSULUT.ID – Foto yang tersebar ini bukan sekadar gambar antrian kendaraan di sebuah SPBU. Ini adalah potret nyata kondisi rakyat kita. Di bawah terik matahari yang membara, pengemudi ojek, pedagang kecil, buruh, dan warga biasa berjejer panjang, berjam-jam hanya untuk mendapatkan bahan bakar yang merupakan kebutuhan paling dasar.

Rasyid Amrain menyampaikan kritik berikut:

Scroll untuk lanjut membaca
Advertisement

Pertama: Ini adalah ketidakadilan yang nyata

Lihatlah siapa yang mengantri. Bukan pejabat, bukan konglomerat. Mereka adalah rakyat kecil yang setiap menitnya bernilai untuk makan keluarga. Sementara kendaraan dinas dan mereka yang berkuasa tidak pernah merasakan kesulitan ini. Mengapa beban kelalaian negara selalu jatuh pada pundak yang paling lemah?

Kedua: Ini adalah kerugian ekonomi yang besar

Setiap jam yang terbuang di antrian adalah waktu yang hilang untuk bekerja. Bagi rakyat kecil, waktu adalah uang. Ketika mereka mengantre berjam-jam, pendapatan harian berkurang, dan ketahanan ekonomi keluarga terancam. Ini bukan sekadar masalah bensin — ini masalah kelangsungan hidup.

Ketiga: Ini adalah kegagalan sistem yang berulang

Kita sudah terlalu lama mendengar alasan: “kendala distribusi”, “penyesuaian kuota”, “fluktuasi harga dunia”. Tapi solusi nyata tidak pernah datang. Masalah ini terjadi tahun demi tahun. Apakah negara tidak mampu merencanakan dengan baik? Atau memang tidak serius mengurus kepentingan rakyat?

Keempat: Kehadiran negara sedang dipertanyakan

Negara hadir ketika memungut pajak, tapi negara hilang ketika rakyat butuh kebutuhan dasar. Jika negara tidak bisa menjamin ketersediaan BBM yang merata dan terjangkau, lalu apa fungsi dari birokrasi yang besar dan anggaran yang triliunan rupiah ini?

Rasyid Amrain menegaskan:

“Kami tidak menuntut kemewahan. Kami hanya menuntut satu hal — kepastian. Bahwa ketika rakyat butuh bensin, itu tersedia. Tanpa antrian, tanpa penderitaan, tanpa alasan kosong. Rakyat sudah terlalu lama sabar. Kesabaran itu kini menipis. Perubahan harus terjadi — sekarang juga.”

Penulis: Rasyid Amrain, Mahasiswa Universitas Negeri Gorontalo, Fakultas Ilmu Sosial dan Sekretaris Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat FIS.

Share :