Scroll ke bawah untuk membaca
Provinsi Gorontalo

Lewat Program PPDM, Poltekkes Gorontalo Latih Warga Biawu Kelola Sampah Organik

101
×

Lewat Program PPDM, Poltekkes Gorontalo Latih Warga Biawu Kelola Sampah Organik

Sebarkan artikel ini

GOSULUT.ID – Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Gorontalo kembali menjalankan pengabdian kepada masyarakat. Melalui skema Program Pengembangan Desa Mitra (PPDM) dosen dan mahasiswa Poltekkes mengadakan pelatihan pengolahan sampah organik di Kelurahan Biawu, Kota Gorontalo, Sabtu (11/7/2026).

Kegiatan dengan tema “Pengolahan Sampah Rumah Tangga Sampah Organik dengan Metode Dekomposer” ini dipusatkan di Kantor Lurah Biawu mulai pukul 08.30–11.30 Wita.

Scroll untuk lanjut membaca
Advertisement

Sebanyak 30 peserta dari unsur pemerintah kelurahan, tokoh masyarakat, kader, dan warga umum mengikuti kegiatan tersebut.

Penyerahan alat Dekomposer oleh Ketua Tim Pengabmas, Ruslin Hasan, M. Kes.

Ketua Tim Pengabdian sekaligus Ketua Jurusan Sanitasi Lingkungan Poltekkes Gorontalo Ruslin Hasan, M.Kes. mengatakan, kegiatan ini adalah wujud pelaksanaan Tridarma Perguruan Tinggi.

“Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat ini merupakan salah satu tugas kami di Poltekkes Kemenkes Gorontalo. Tujuannya agar masyarakat mampu mengelola sampah organik rumah tangga secara mandiri,” ujar Ruslin.

Acara dibuka resmi oleh Lurah Biawu Suleman Abas. Ia mengapresiasi kehadiran tim kampus karena dinilai membantu mengatasi persoalan sampah di tingkat rumah tangga.

“Kami berharap kegiatan ini bisa menumbuhkan kebiasaan baru warga untuk memilah dan mengolah sampah sejak dari rumah,” kata Suleman.

Demo Alat Dekomposer

Materi yang disampaikan meliputi jenis sampah, dampak buruk jika tidak dikelola, pentingnya pemilahan, hingga manfaat menjadikan sampah organik sebagai kompos.

Setelah pemaparan, tim melakukan praktik langsung penggunaan alat dekomposer. Warga dipandu mulai dari memilah bahan organik, mencacah, memasukkan ke alat, merawat selama proses penguraian, hingga memanfaatkan hasil kompos untuk tanaman.

Diskusi berlangsung aktif. Warga banyak bertanya soal kendala yang dihadapi di rumah.

Salah satu peserta, Karim yang merupakan aktivis lingkungan Biawu, berbagi tips membuat MOL dari air cucian beras dan gula merah untuk mempercepat penguraian sampah. Pengalaman ini mendapat respon positif dari peserta lain.

Efektivitas 64,38%, Pengetahuan Naik 12,26%

Peserta terbanyak berusia di atas 45 tahun, 63%. Dari sisi pekerjaan, ibu rumah tangga mendominasi dengan 8 orang atau 26,7%. Kelompok ini dinilai strategis karena berperan langsung dalam pengelolaan sampah harian.

Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan pemahaman. Rata-rata nilai pre-test 8,40 naik jadi 9,43 pada post-test. Kenaikannya 1,03 poin atau 12,26%.

Berdasarkan N-Gain, efektivitas kegiatan mencapai 64,38% kategori cukup efektif. Skor post-test 9,43 dari 10 juga berarti tingkat penguasaan materi warga mencapai 94,30%.

Serahkan Bantuan Alat

Sebagai dukungan keberlanjutan, tim menyerahkan 1 unit alat dekomposer dan buku saku “Edukasi Pengolahan Sampah Organik dengan Metode Dekomposer” kepada pihak Kelurahan Biawu.

Dengan adanya alat ini, diharapkan warga Biawu bisa rutin mengolah sampah organik. Dampaknya, volume sampah ke TPA berkurang, lingkungan lebih bersih, dan tersedia pupuk organik untuk tanaman.

Tim pelaksana:

1. Ruslin Hasan, M.Kes. – Ketua

2. Marhamah Yudin, S.KM., M.Kes.

3. Siti Choirul Dwi Astuti, M.Tr.Keb.

4. Dr. Faisal, S.KM., M.Kes. (Epid)

Share :  
error: Content is protected !!