GOSULUT.ID — Di balik tembok Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Gorontalo, aktivitas warga binaan tak hanya berkutat pada rutinitas kehidupan di dalam lapas. Ada pula tangan-tangan yang sibuk merawat tanaman, menunggu waktu panen, dan belajar menghasilkan sesuatu yang kelak bisa menjadi bekal ketika mereka kembali ke tengah masyarakat.
Suasana itu terlihat saat Lapas Kelas IIA Gorontalo menggelar panen perdana hasil budidaya tanaman di greenhouse lapas.
Selada, timun, dan melon menjadi hasil dari program pembinaan ketahanan pangan yang dijalankan bersama warga binaan.
Kepala Lapas Kelas IIA Gorontalo, Junaidi Rison, mengatakan panen tersebut merupakan bagian dari upaya mendukung program pemerintah terkait ketahanan pangan sekaligus menjalankan program Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan.
“Ini merupakan panen perdana dari kegiatan warga binaan di dalam Lapas Gorontalo untuk menunjang ketahanan pangan,” kata Junaidi.
Menariknya, hasil panen tersebut tidak hanya berhenti sebagai kegiatan pembinaan. Produk yang dihasilkan warga binaan akan dimanfaatkan dan sebagian dipasarkan kepada pihak ketiga atau vendor yang menyediakan bahan makanan bagi penghuni lapas.
Menurut Junaidi, sekitar seperlima hasil panen akan dijual kepada vendor tersebut. Dengan begitu, warga binaan tidak hanya belajar menanam, tetapi juga mulai mengenal bagaimana hasil kerja mereka memiliki nilai ekonomi.
Panen kali ini juga melibatkan ibu-ibu Dharma Wanita Lapas Kelas IIA Gorontalo. Bagi Junaidi, keterlibatan tersebut diharapkan dapat menjadi penyemangat untuk terus menghadirkan kegiatan-kegiatan positif yang mendukung program ketahanan pangan.
Yang membuat hasil panen ini terasa istimewa adalah waktu yang dibutuhkan untuk sampai ke meja panen. Tanaman yang dibudidayakan di greenhouse tersebut baru berusia sekitar 25 hari, yang artinya tidak cukup dalam sebulan.
Dalam satu greenhouse yang ukurannya tidak terlalu besar, warga binaan berhasil membudidayakan tiga jenis tanaman, yakni selada, timun, dan melon.
Junaidi menyebut hasilnya memiliki kualitas yang baik, bahkan dapat dikategorikan premium.
Namun, lebih dari sekadar menghasilkan sayuran dan buah, program ini juga menjadi ruang bagi warga binaan untuk berbagi pengetahuan.
Junaidi mengatakan pihak lapas berusaha memanfaatkan keterampilan yang sebelumnya telah dimiliki sejumlah warga binaan sebelum mereka menjalani masa pidana.
“Sebelum mereka masuk ke dalam lapas, mereka memang sudah memiliki ilmu dalam hal ketahanan pangan. Jadi kita manfaatkan, kita tularkan kepada warga binaan yang lain,” ujarnya.
Harapannya sederhana, keterampilan yang mereka dapatkan selama berada di lapas tidak berhenti ketika pintu lapas terbuka. Bekal tersebut diharapkan bisa menjadi modal untuk berkarya dan membantu kehidupan keluarga setelah mereka kembali ke masyarakat.
“Kita berusaha supaya mereka bisa memacu untuk berkarya, kemudian bisa menghasilkan untuk keluarga mereka nantinya,” kata Junaidi.
Program tersebut pun tidak berhenti pada greenhouse yang ada saat ini. Lapas Kelas IIA Gorontalo telah menyiapkan rencana pengembangan dengan memanfaatkan lahan di bagian depan lapas.
Junaidi mengatakan pihaknya berencana mengembangkan kawasan tersebut menjadi agrowisata yang menggabungkan kegiatan pertanian dengan ruang edukasi dan wisata.
Sayuran dan buah-buahan nantinya akan menjadi bagian dari pengembangan kawasan tersebut.
Jika rencana itu terwujud, lahan di depan lapas bukan sekadar ruang kosong. Ia bisa menjadi tempat tumbuhnya tanaman sekaligus harapan baru bagi warga binaan.








