Scroll ke bawah untuk membaca
Provinsi Gorontalo

Kemarau 2026 Lebih Kering, BMKG Prediksi El Nino Aktif Sampai Awal 2027

83
×

Kemarau 2026 Lebih Kering, BMKG Prediksi El Nino Aktif Sampai Awal 2027

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi. (Foto: AI/Gosulut)
 

GOSULUT.ID – Musim kemarau tahun ini diprediksi lebih panjang dari biasanya. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Gorontalo menyebut El Nino di Samudra Pasifik tengah menjadi faktor utama yang memperkuat kondisi kering di Gorontalo.

Forecaster BMKG Stasiun Klimatologi Gorontalo, Dimas Yudistira mengatakan, pada Dasarian III Agustus 2026 atau periode 21–31 Agustus curah hujan di wilayah Gorontalo hanya diprediksi 0–10 milimeter.

Scroll untuk lanjut membaca
Advertisement

“Untuk dasarian terakhir bulan ini, 21 sampai 31 Agustus, curah hujannya masih rendah, di kisaran 0 sampai 10 milimeter,” ujarnya, Rabu (19/8/2026).

Menurut Dimas, tidak ada fenomena cuaca lokal khusus yang menekan hujan. Kondisi kering terjadi karena bertepatan dengan musim kemarau dan diperkuat El Nino.

“Tidak ada fenomena khusus. Memang ini musim kemarau, ditambah El Nino di Pasifik tengah yang membuat uap air di wilayah Indonesia berkurang,” jelasnya.

Dampaknya sudah terlihat di lapangan. Sejumlah lahan pertanian di Gorontalo mulai kesulitan air. Tanaman yang bergantung pada hujan berisiko terganggu jika kemarau berlanjut.

Data BMKG pusat mencatat 437 Zona Musim atau 48,77 persen wilayah Indonesia berpotensi mengalami kemarau lebih panjang dari normal pada 2026.

Puncak kemarau terjadi Agustus–September. Agustus mencakup 369 ZOM, September 169 ZOM.

Untuk Gorontalo, September 2026 juga diprediksi masih minim hujan.

“September prediksinya masih rendah juga curah hujannya,” kata Dimas.

BMKG bahkan mencatat ada wilayah di Gorontalo yang sudah mengalami Hari Tanpa Hujan kategori sangat panjang 31–60 hari.

Yang perlu diwaspadai, El Nino diprediksi masih aktif hingga awal trimester pertama 2027. Dalam rilis 30 Juli 2026, BMKG menyebut intensitas puncaknya bisa masuk kategori kuat.

“Untuk sekarang El Nino masih diprediksi aktif sampai trimester pertama 2027,” ungkap Dimas.

Namun Dimas menegaskan El Nino dan musim kemarau berbeda. Kemarau siklus tahunan, El Nino fenomena iklim yang memperkuat kekeringan.

“Jadi bukan berarti sampai 2027 tidak ada hujan sama sekali,” ujarnya.

Titik terang diprediksi muncul Oktober 2026–Maret 2027 saat angin baratan mulai aktif dan memicu hujan.

“Biasanya Oktober sampai Maret itu sudah mulai muncul angin baratan. Itu berhubungan dengan peningkatan hujan,” terangnya.

Meski begitu, jumlah dan distribusi hujan tetap tergantung kekuatan angin baratan dan El Nino.

“Hujan tetap ada, tapi frekuensinya bisa lebih sedikit atau tidak merata,” tambahnya.

BMKG mengingatkan kemarau panjang berpotensi memicu kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, serta mengganggu sektor pangan dan air. Petani diminta menyesuaikan pola tanam dengan kondisi cuaca.

Share :