Scroll ke bawah untuk membaca
Provinsi Gorontalo

Kadis Pendidikan Gorontalo Apresiasi LINGUA FEST 2026 SMAN 1 Limboto

72
×

Kadis Pendidikan Gorontalo Apresiasi LINGUA FEST 2026 SMAN 1 Limboto

Sebarkan artikel ini
 

GOSULUT.ID – Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Gorontalo Sudarman Samad, AP, M.Ec.Dev., memberikan apresiasi terhadap pelaksanaan LINGUA FEST 2026 (Literacy & Language Festival) yang digelar SMA Negeri 1 Limboto dalam rangka menyambut Bulan Bahasa dan Sastra.

Apresiasi tersebut disampaikannya saat menghadiri puncak kegiatan yang berlangsung pada 17–22 Oktober 2026 di Taman Literasi SMA Negeri 1 Limboto.

Scroll untuk lanjut membaca
Advertisement

Menurutnya, LINGUA FEST menjadi contoh nyata ruang kreativitas bagi generasi muda untuk mengembangkan kemampuan berbahasa dan mencintai sastra.

“Kegiatan literasi dan kesastraan seperti ini membuka ruang kreativitas bagi generasi muda. Ini sangat positif untuk mengasah keberanian berekspresi, daya kritis, dan kecintaan terhadap budaya,” ujar Sudarman.

Ia menilai, semangat LINGUA FEST sejalan dengan penguatan Trigatra Bahasa, yakni mengutamakan bahasa Indonesia, melestarikan bahasa daerah, dan menguasai bahasa asing. Ketiganya menjadi bekal penting agar generasi muda tetap berakar pada budaya sendiri sekaligus mampu berinteraksi di tingkat global.

Pada kesempatan itu, Sudarman Samad menyerahkan penghargaan kepada Teater Peneti Gorontalo atas konsistensi dan dedikasinya dalam merawat gerakan literasi di Gorontalo melalui Tadarus Puisi 10+3.

Sementara itu, Kepala SMA Negeri 1 Limboto, Dr. Hj. Ester Yunginger, M.Pd., mengatakan kegiatan ini merupakan wujud pendidikan yang memberi ruang kepada siswa untuk bertumbuh bukan hanya melalui pengetahuan, tetapi juga melalui pengalaman, keberanian, dan kreativitas.

Panitia LINGUA FEST 2026, Selvi Katili menuturkan, bahwa literasi tidak seharusnya berhenti ketika kegiatan usai.

“Literasi mesti terus tumbuh di sekolah, di tengah masyarakat, dalam karya-karya baru, dan dalam keberanian anak-anak muda menyuarakan pikiran serta perasaannya,” ujar Selvi.

Ia menambahkan, ketika anak-anak berani bersuara, bahasa tetap hidup. Ketika sastra terus dibaca, budaya menemukan penerusnya.

Share :