Scroll ke bawah untuk membaca
Kontrol

Rektor UBMG Dukung PENAS XVII Gorontalo, Perkuat Kolaborasi Pentahelix dan Pemerataan Pendidikan Tinggi

88
×

Rektor UBMG Dukung PENAS XVII Gorontalo, Perkuat Kolaborasi Pentahelix dan Pemerataan Pendidikan Tinggi

Sebarkan artikel ini

GOSULUT.ID – Pelaksanaan Pekan Nasional (PENAS) Petani dan Nelayan XVII yang akan digelar di Limboto, Provinsi Gorontalo, pada 20–25 Juni 2026, mendapat dukungan penuh dari Universitas Bina Mandiri Gorontalo (UBMG).

Bagi Kampus UBMG, PENAS bukan sekadar agenda nasional yang mempertemukan petani dan nelayan dari seluruh Indonesia, tetapi juga menjadi ruang strategis untuk memperkuat kolaborasi akademik, inovasi, dan pemberdayaan masyarakat dalam mendukung pembangunan yang berkelanjutan.

Scroll untuk lanjut membaca
Advertisement

Rektor UBMG, Dr. Titin Dunggio, M.Si, M.Kes mengatakan bahwa penyelenggaraan PENAS XVII merupakan momentum yang sangat penting untuk memperkuat sinergi antara pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, media, dan masyarakat melalui pendekatan kolaborasi pentahelix.

Menurutnya, model kolaborasi tersebut menjadi kunci dalam menjawab berbagai tantangan pembangunan, termasuk ketahanan pangan, penguatan ekonomi masyarakat, serta pemerataan pendidikan tinggi.

PENAS XVII merupakan momentum yang sangat strategis untuk memperkuat kolaborasi lintas sektor.

“Perguruan tinggi tidak boleh hanya menjadi menara gading yang fokus pada pengajaran dan penelitian semata, tetapi harus hadir sebagai pusat inovasi, penggerak perubahan, dan mitra strategis pemerintah serta masyarakat. Melalui kolaborasi pentahelix, kami optimistis akan lahir berbagai inovasi dan solusi yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus memperkuat daya saing bangsa,” ujar Rektor Titin.

Rektor Titin juga menjelaskan, sebagai institusi pendidikan tinggi yang berkomitmen pada pengembangan ilmu pengetahuan dan pengabdian kepada masyarakat, UBMG memandang PENAS XVII sebagai wahana pembelajaran bersama (learning ecosystem) yang menghubungkan dunia akademik dengan praktik-praktik terbaik di lapangan.

Menurutnya, pengalaman dan pengetahuan yang dimiliki petani serta nelayan perlu dikolaborasikan dengan hasil-hasil penelitian dan inovasi yang dikembangkan perguruan tinggi. Dengan demikian, proses pembangunan tidak hanya bersifat top-down, tetapi juga berbasis pada kebutuhan riil masyarakat.

Perguruan tinggi memiliki tanggung jawab moral dan akademik untuk mendampingi masyarakat melalui riset, inovasi, dan pengabdian.

“Sementara petani dan nelayan memiliki pengalaman empiris yang sangat kaya. Ketika keduanya dipertemukan dalam sebuah kolaborasi yang produktif, maka akan lahir berbagai terobosan yang bermanfaat bagi pembangunan daerah maupun nasional,” jelasnya.

Rektor Titin menambahkan bahwa penyelenggaraan PENAS XVII di Gorontalo akan memberikan dampak multidimensi, mulai dari peningkatan aktivitas ekonomi, promosi daerah, hingga penguatan jejaring kerja sama antar lembaga.

Kampus UBMG sangat mendukung agar gelaran nasional ini dapat berjalan dengan lancar dan sukses.

“Kami percaya bahwa PENAS XVII akan menjadi etalase kemajuan Provinsi Gorontalo di tingkat nasional. Selain memberikan dampak ekonomi, kegiatan ini juga akan memperkuat posisi Gorontalo sebagai daerah yang terbuka terhadap inovasi, kolaborasi, dan pengembangan sumber daya manusia yang unggul,” tuturnya.

Lebih lanjut, Rektor Titin menilai bahwa semangat kolaborasi yang dibangun melalui PENAS XVII juga perlu diimplementasikan dalam pengembangan pendidikan tinggi di Indonesia, khususnya dalam memperkuat peran Perguruan Tinggi Swasta (PTS).

Ia mengungkapkan bahwa PTS selama ini telah menjadi garda terdepan dalam memperluas akses pendidikan tinggi, terutama di daerah-daerah di luar Pulau Jawa. Namun demikian, masih terdapat tantangan yang harus dihadapi, baik dari sisi pembiayaan, operasional, maupun pemenuhan standar mutu dan akreditasi.

“Perguruan Tinggi Swasta (PTS) memiliki kontribusi yang sangat besar dalam pemerataan pendidikan tinggi di Indonesia. Namun, di tengah berbagai tantangan yang ada, kami berharap pemerintah dapat terus menghadirkan kebijakan yang lebih afirmatif dan berkeadilan, sehingga PTS dapat tumbuh secara berkelanjutan dan semakin berkontribusi bagi pembangunan bangsa,”

Ia mengungkapkan bahwa PTS selama ini telah menjadi garda terdepan dalam memperluas akses pendidikan tinggi, terutama di daerah-daerah di luar Pulau Jawa. Namun demikian, masih terdapat tantangan yang harus dihadapi, baik dari sisi pembiayaan, operasional, maupun pemenuhan standar mutu dan akreditasi.

“Perguruan Tinggi Swasta (PTS) memiliki kontribusi yang sangat besar dalam pemerataan pendidikan tinggi di Indonesia. Namun, di tengah berbagai tantangan yang ada, kami berharap pemerintah dapat terus menghadirkan kebijakan yang lebih afirmatif dan berkeadilan, sehingga PTS dapat tumbuh secara berkelanjutan dan semakin berkontribusi bagi pembangunan bangsa,” terang Rektor Titin.

Berdasarkan data Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi tahun 2025, terdapat lebih dari 2.700 Perguruan Tinggi Swasta di Indonesia yang berperan penting dalam menyediakan akses pendidikan tinggi bagi masyarakat. Oleh karena itu, dukungan kebijakan yang seimbang antara PTN dan PTS menjadi salah satu faktor penting dalam mewujudkan pemerataan pendidikan yang berkualitas.

Dalam konteks tersebut, UBMG terus melakukan transformasi kelembagaan melalui berbagai program inovatif yang sejalan dengan kebijakan Kampus Berdampak. Salah satunya dengan membentuk unit-unit produksi kampus yang tidak hanya mendukung keberlanjutan institusi, tetapi juga menjadi wadah pembelajaran kewirausahaan, inovasi, dan pemberdayaan masyarakat.

“UBMG terus bertransformasi menjadi PTS yang adaptif, inovatif, dan berdampak. Kami membangun ekosistem akademik yang mendorong dosen dan mahasiswa untuk menghasilkan karya nyata yang dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Kampus harus menjadi pusat lahirnya gagasan, inovasi, dan solusi atas berbagai persoalan yang dihadapi bangsa,” tegas Dr. Titin.

Ia berharap PENAS XVII dapat menjadi tonggak penting dalam memperkuat sinergi antara dunia pendidikan, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat, sehingga mampu menghasilkan berbagai kebijakan dan inovasi yang mendorong pembangunan nasional yang inklusif dan berkelanjutan.

“Sebagai PTS, Kampus UBMG siap berkolaborasi dan berkontribusi dalam setiap agenda pembangunan bangsa. Kami percaya bahwa kemajuan Indonesia hanya dapat dicapai melalui kerja sama yang kuat, inovasi yang berkelanjutan, dan sumber daya manusia yang unggul. Semoga PENAS XVII Gorontalo berjalan sukses dan menjadi inspirasi bagi lahirnya kolaborasi-kolaborasi besar untuk Indonesia yang lebih maju,” tutup Rektor UBMG. (hms)

Share :  
error: Content is protected !!