Scroll ke bawah untuk membaca
Provinsi Gorontalo

Diseminasi Riset BI, Jasin Mohammad Paparkan Analisis Usaha Tani Jagung

267
×

Diseminasi Riset BI, Jasin Mohammad Paparkan Analisis Usaha Tani Jagung

Sebarkan artikel ini

GOSULUT.ID – Bank Indonesia (BI) Provinsi Sulawesi Selatan berkolaborasi dengan BI Provinsi Gorontalo, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Utara melakukan diseminasi riset berjudul “Karakteristik dan Struktur Rantai Nilai Jagung di Suagribisn di kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Gorontalo, Selasa, (10/02/2026).

Kegiatan ini turut dihadiri Kepala Dinas Pertanian Provinsi Gorontalo, pelaku usaha jagung, serta akademisi sebagai peserta salah satunya adalah Ketua Asosiasi Perkumpulan Pedagang dan Produsen Jagung Indonesia (PEJAGINDO) Perwakilan Provinsi Gorontalo, Jasin Mohammad yang memaparkan secara rinci perkembangan perdagangan serta analisis usaha tani jagung.

Scroll untuk lanjut membaca
Advertisement

Mantan Wakil Ketua Bidang Perizinan, Investasi, Pengembangan Ekspor, dan Pasar Modal Kadin Provinsi Gorontalo itu menuturkan, tahun 2025 nilai transaksi perdagangan jagung di Provinsi Gorontalo mencapai Rp2.869.141.000.000, dengan jumlah pengiriman antar pulau sebanyak 521.662 ton. Angka tersebut meningkat sekitar Rp180 miliar dibandingkan tahun 2024 yang tercatat sebesar Rp2.688.960.558.300.

“Total jagung yang diperdagangkan ke perusahaan pakan ternak (feedmill) dan peternak mencapai 538.395 ton, Ini menunjukkan tingginya permintaan buyer terhadap komoditas jagung asal Gorontalo,”tuturnya.

Dijelaskan, seluruh perusahaan jagung di Provinsi Gorontalo selalu menerapkan sistem pengukuran kadar air secara transparan bersama petani. Setiap kenaikan kadar air akan dikenakan pemotongan atau refaksi hingga batas maksimal 15 persen sesuai standar mutu.

‎“Setiap alat ukur kadar air selalu ditera ulang secara berkala oleh UPTD Balai Metrologi sesuai lokasi gudang masing-masing,” katanya.

Direktur PT Gorontalo Pangan Sejahtera itu juga memaparkan perkiraan analisis usaha tani jagung per hektare tahun 2026. Biaya produksi dengan penerapan teknologi penuh diperkirakan mencapai Rp11.279.500 per hektare, dengan potensi hasil panen sekitar 7 ton per hektare.

“‎Apabila jagung dibeli sesuai Harga Pembelian Pemerintah (HPP) sebesar Rp5.500 per kilogram dengan kadar air 18–20 persen, maka petani berpotensi memperoleh pendapatan sekitar Rp38.500.000 per hektare, ” Imbuhnya

‎Sementara itu kata Jasin kembali, jika jagung dibeli dengan kadar air 14 persen dan kadar aflatoksin di bawah 50 ppm dengan harga Rp6.400 per kilogram.

“Maka pendapatan petani dapat mencapai Rp44.800.000 per hektare, ” Sambung Jasin.

Ditegaskan penerapan standar mutu, penggunaan teknologi, serta transparansi tata niaga menjadi kunci utama dalam meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani jagung di Provinsi Gorontalo.

Sementara itu Surya Alamsyah dari Bank Indonesia selaku Kepala Divisi Kelompok Kajian Wilayah Sulawesi Selatan dalam paparannya menegaskan bahwa rantai nilai jagung di wilayah Sulawesi, Maluku, dan Papua (Sulampua) memiliki peran strategis dalam mendukung program swasembada pangan nasional

“Ini mengingat jagung merupakan komponen utama pakan unggas, baik ayam petelur maupun pedaging, ” Ujarnya.

‎Bank Indonesia memaparkan hasil kajian rantai nilai jagung di wilayah Sulawesi, Maluku, dan Papua (Sulampua). Pemaparan disampaikan oleh Surya Alamsyah, Kepala Divisi Kelompok Kajian Wilayah Sulawesi Selatan.

‎BI menegaskan bahwa rantai nilai jagung di Sulampua memiliki peran strategis dalam mendukung program swasembada pangan nasional, khususnya sebagai bahan baku utama pakan unggas.

‎Secara nasional, wilayah Sulampua merupakan produsen jagung terbesar ketiga setelah Jawa dan Sumatera, dengan kontribusi sekitar 13,9 persen produksi nasional, dengan kontributor utama Sulawesi Selatan, Gorontalo, Sulawesi Utara, dan Sulawesi Tengah.

‎Namun, rantai nilai jagung masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari keterbatasan lahan, risiko iklim, kualitas produksi, hingga permodalan di tingkat petani, serta ketidakstabilan pasokan dan mutu bahan baku di tingkat pengepul dan industri.

‎Sebagai solusi, BI merekomendasikan lima strategi utama penguatan rantai nilai jagung, yaitu:

‎1. Peningkatan kualitas jagung melalui pembangunan infrastruktur pascapanen seperti dryer dan gudang komunal.

‎‎2. Penguatan peran kelompok tani dan gapoktan sebagai aggregator pasokan.

‎‎3. Peningkatan produktivitas melalui benih hibrida dan penerapan Good Agricultural Practices (GAP).

‎‎4. Penguatan kemitraan berbasis kontrak kualitas antara petani, pengepul, dan industri.

‎5. Peningkatan literasi dan kapasitas teknologi pertanian melalui sekolah lapang dan klinik agribisnis.

‎Melalui diseminasi ini, Bank Indonesia mendorong penguatan rantai nilai jagung yang terarah pada peningkatan produktivitas dan kualitas, sekaligus mendukung ketahanan pangan dan swasembada pangan nasional.

Share :  
error: Content is protected !!