Presnas, Silatnas dan Momentum Penting  Gorontalo

Presnas, Silatnas dan Momentum Penting  Gorontalo

Oleh : 

Ali Mobiliu
Pemerhati Budaya Gorontalo

 

Kemampuan membaca momentum adalah sebuah keniscayaan. Kejelian  membaca momentum, bahkan menjadi barometer untuk mengukur tingkat kecerdasan seseorang. Dalam hidup ini, terkadang ada orang yang tepat  pada momentum yang salah, tapi ada juga orang yang salah pada momentum yang tepat. Itulah sebabnya, kemampuan membaca momentum sangat penting dan menentukan keberhasilan dalam sebuah ikhtiar.  

Jika menelaah sejarah keberhasilan perjuangan pembentukan Provinsi Gorontalo tahun 2000 silam, ternyata, tidak terlepas dari kemampuan Gorontalo dalam membaca momentum. Aspirasi rakyat Gorontalo untuk menjadi sebuah Provinsi, muncul pada momentum yang tepat, yakni saat “euforia” reformasi tengah bergulir. 

Pelaksanaan Silatnas I Presnas pada tanggal 4-5 Januari 2000, juga menuai sukses, karena hadir pada momentum yang tepat, yakni momentum reformasi sekaligus momentum bulan Ramdhan yang penuih keberkahan dan momentum Festival Tumbilotohe, di mana para tokoh Gorontalo di tanah rantau kala itu,  beramai-ramai pulang ke kampung halaman. Tidak heran, jika hanya 11 bulan setelah Silatnas 1, kiprah, peran dan perjuangan Presnas yang menjadi wadah pemersatu seluruh elemen Gorontalo kala itu, berhasil dengan gemilang.


Kejelian Presnas dalam membaca momentum,  kembali terukir dengan gamblang pada Silatnas II.tahun 2006. Momentum periode ke-2 kepemimpinan Gubernur Fadel Muhammad dan Wakil Gubernur Gusnar Ismail kala itu, dipandang sangat penting dan strategis, sebagai periode kepemimpinan yang harus dikawal dan dikritisi agar kinerja pemerintahan lebih prima, lebih sigap, lebih cepat dan lebih progresif dalam melaksanakan program dan kebijakan yang pro rakyat. Momentum lainnya yang dipandang penting oleh Presnas ketika itu, adalah momentum regenerasi kepemimpinan yang harus mampu melahirkan pemimpin baru Gorontalo yang lebih baik lagi pada periode pasca Fadel Muhammad. Targetnya, agar Gorontalo lebih progresif lagi dalam capaian-capaian pembangunannya. 

Kini, kemampuan, kejelian dan kecerdasan Presnas membaca momentum, kembali hadir dan menggema melalui perhelatan Silatnas III yang akan digelar pada 25-26 Juni 2021, di Resto Orasawa Kompleks GORR Limboto. Menurut Ketua Dewan Pembina Presnas Prof. Nelson Pomalingo, paling tidak, terdapat 3 momentum penting yang mendasari pelaksanaan Silatnas III kali ini, yakni : 

pertama, momentum Gorontalo Emas dalam bingkai Indonesia Emas 2045. Salah satu isu  penting dari Indonesia Emas yang harus dipersiapkan dalam 25 tahun ke depan menurut Deklarator Provinsi Gorontalo ini, adalah “Bonus Demografi”, di mana populasi usia produktif (15-64) tahun, lebih besar jumlahnya, sekitar 70 persen dari populasi penduduk usia tidak produktif. Jika Gorontalo gagal dalam mengembangkan kualitas SDM ke depan,  maka bukan “bonus demografi” yang diperoleh, melainkan “kutukan demografi”. 

Kedua, Momentum 20 tahun berprovinsi. Melalui agenda Silatnas III kali ini, diharapkan seluruh komponen Gorontalo, kembali bersatu dalam semangat “moawota”,  (Silaturahim) “buhuta waw walama” (mengikat dalam satu kesatuan), sejenak melupakan warna politik dan perbedaan, untuk melihat dan menoleh ke belakang, apa kelebihan, kekurangan dan kelemahan Gorontalo selama 20 tahun berprovinsi dan apa yang harus dilakukan serta diperbuat oleh Gorontalo menaklukkan tantangan dalam 25 tahun ke depan. 

Ketiga, momentum  ketokohan Gorontalo di pentas nasional. Menurut Prof. Nelson Pomalingo, Gorontalo hari ini, tidak cukup hanya sekadar berbangga memiliki sosok Rahmat Gobel yang menjabat Wakil Ketua DPR-RI, Fadel Muhammad yang menjadi Wakil Ketua MPR-RI, Suharso Monoarfa sebagai Kepala BAPENAS RI, Zainudin Amali sebagai Menpora dan Sandiaga Salahudin Uno sebagai Menpar Ekraf-RI, tapi yang lebih penting lagi, bagaimana membangkitkan semangat seluruh elemen Gorontalo untuk “proaktif”  memanfaatkan momentum keberadaan para tokoh hebat Gorontalo tersebut, dalam kerangka memberikan penguatan yang lebih terhadap masa depan Gorontalo. 

Dalam perspektif Prof. Nelson Pomalingo, mempersiapkan, menghadapi dan mensiasati momentum-momentum penting tersebut di atas, membutuhkan sumbangsih pemikiran, ide, gagasan dan bahkan apa yang menjadi mimpi kita tentang Gorontalo ke depan. Oleh karena itu, entri point pelaksanaan Silatnas III kali ini adalah, menghimpun, menyatukan dan mempertemukan “pokok-pokok” pikiran dari seluruh komponen Gorontalo, para tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh adat, tokoh pemuda dan kaum millennial hingga semua konsep pemikiran itu menjelma menjadi formulasi mewujudkan visi Gorontalo Emas 2045. 
 
Tentu tidak berhenti sampai disitu saja, sebagai Ketua Dewan Pembina Presnas, Prof. Nelson Pomalingo, telah  menyiapkan 3 skema, sebagai agenda penting pasca pelaksanaan Silatnas III, yakni pertama, keseluruhan “pokok-pokok pikiran” para tokoh, generasi muda dan kaum millenial tersebut, akan dirangkum ke dalam “Buku besar Gorontalor” yang nantinya menjadi “Dokumen Masa Depan” Gorontalo, untuk selanjutnya, menjadi rujukan seluruh Pemerintah Daerah di Provinsi Gorontalo dalam kerangka melahirkan program dan kebijakan bagi masa depan Gorontalo. 

Kedua, merujuk pada dokumen itu, Presnas akan membentuk tim yang berasal dari perguruan tinggi, praktisi, aktifis dan komponen masyarakat lainnya, untuk menyusun “Roadmap” sebagai peta jalan menuju Gorontalo Emas 2045. Dengan begitu, pembangunan dan kemajuan Gorontalo lebih terarah, bersinergi, aspiratif, responsif, tepat sasaran dengan ouput yang jelas dan terukur.  

Ketiga, Presnas akan terus mengawal dan memberikan bobot penguatan terhadap pembangunan di Gorontalo yang berkemajuan dengan tetap merujuk pada Dokumen Besar Masa depan Gorontalo. 

Dengan demikian dapat disimpulkan,  bahwa Presnas dan Silatnas III kali ini, hendak memanggil kita semua untuk melupakan sejenak warna politik, demi masa depan Gorontalo yang berkemajuan, untuk selanjutnya secara bersama memaknai cita-cita, harapan, obsesi dan aspirasi rakyat Gorontalo. Bagaimanapun, daerah ini ke depan, membutuhkan ketulusan, merindukan orang-orang yang berjiwa besar dengan pikiran-pikiran yang konstruktif. Gorontalo ke depan, juga  mendambakan tokoh dan elit Gorontalo yang mampu menanggalkan sejenak warna, ego dan fanatisme  kelompok dan identitas partisan. 

Dan bagi rakyat Gorontalo kebanyakan, pelaksanaan Silatnas III kali ini, sekaligus dapat menjadi momentum untuk melihat, siapa tokoh yang benar-benar tulus untuk membangun Gorontalo dan siapa yang hanya sekadar menjadi “pecundang” yang selalu merasa paling benar dan memandang orang lain yang selalu salah. (AM)