MENELUSURI JEJAK SEJARAH PERADABAN KERAJAAN HULONTHALANGI DI NEGERI WADENG

MENELUSURI JEJAK SEJARAH PERADABAN KERAJAAN HULONTHALANGI DI NEGERI WADENG

Oleh 

Maman Ntoma

GOSULUT.ID - Mula-mula daratan di sekitar danau Limboto hanya sebagai tempat persinggahan. Yaitu orang-orang yang melintas lalu kemudian bermukim untuk sementara waktu. Lama kelamaan menjadi sebuah kerajaan besar dan tertua di kawasan semenanjung utara pulau Sulawesi. 

Namanya Kerajaan Hulonthalangi, pada zaman dahulu, komunitas penduduk purba di Suwawa menamakan wilayah itu Lipu lo Wadda (Tulisan lontar La Galigo menyebut Negeri Wadeng).

Awalnya kerajaan itu didirikan di Boyolamilate (Padengo-Tamalate) namun masih berbentuk Linula (koloni atau kelompok terkecil).

Rajanya yang pertama adalah seorang yang dituakan dalam linula itu, yaitu Wolangodula. Permaisurinya adalah saudara kembar Sawerigading (adik kandung) bernama Rawe atau We Tenriabeng. Kerajaan itu makin besar setelah linula-linula itu semakin bertambah banyak jumlahnya.

Salah satu generasinya yang tersohor adalah ILahude atau Wadipalapa. Ia mampu mempersatukan seluruh linula itu kemudian memindahkan pusat kerajaannya di siendeng (Kota Gorontalo).

Sekarang lebih dikenal dengan sebutan Hulonthalo atau Gorontalo, yang memiliki peran penting dan cukup besar dalam pergolakan politik dan pemerintahan pada zamannya. Kebesaran dan pengaruhnya terdapat pada catatan berupa tulisan tangan dalam lembaran sejarah (manuskrip kuno) dan tulisan lontara Sureq La galigo. Demikian pula dalam bentuk artefak, dan jejak-jejak peradabannya yang masih dapat dilihat hingga sekarang.

Uraian manuskrip kuno itu mengisahkan tentang kebesaran Kerajaan Hulonthalangi di Wadeng, yang merupakan manifestasi kehidupan manusia pertama yang menghuni kawasan itu. Mereka berpopulasi, bertahan hidup oleh karena faktor kesuburan tanahnya. Sebab itulah sehingga menarik minat bagi pendatang lainnya untuk menempati dan menetap selamanya. Hal itu dicatat sejak dahulu dan diketahui melalui sumber sejarah masa lampau (referensi) yang tersimpan di museum KTVL Denhag Belanda, dan juga dapat ditemukan di perpustkaan-perpustakaan nasional maupun regional.

Sangat menyayangkan, dalam penerbitan buku dan artikel-artikel pada masa kekinian, Ilahudu atau Wadipalapa dalam Kerajaan Hulonthalangi digambarkan sebagai awal mulanya kerajaan. Sehingga kisah Wolangodula dan Putri Rawe dalam hal ini kehadiran orang Bugis dari Ware' dan komunitas pendatang dari gunung kalabat yang terlebih dahulu ada, dalam konteks pernyusunan referensi sejarah terkamuflase oleh sejarah kedatangan bangsa Portugis yang diatur oleh Belanda (penjajah) pada zaman kolonialisasi. Sedangkan artefak dan jejak-jejak peradaban yang masih tersisa, belum dilakukan penelitian dan belum dipublikasikan dalam bentuk literatur. Sehingga itu tak sempat diperkenalkan kepada masyarakat luas. Oleh karena itu tulisan ini mengangkat beberapa sisa-sisa peradaban Kerajaan Hulonthalangi mulai dari awal terbentuknya kerajaan Hulonthalangi pada pertengahan abad 12 hingga abad ke-13, sampai pada perjuangannya melawan bangsa-bangsa imperialis dan kolonialisme belanda maupun kooptasi kerajaan-kerjaan disekitarnya.

Dengan demikian, maka kali ini penulis akan menyajikan kisah Raja-raja Hulonthalagi dalam tiga fase/tahap, dengan pembagian awal tentang kedatangan orang-orang bugis pertama kali di sekitar Boyolamilate (Padengo-Tamalate). Diperkirakan gelombang pertama orang-orang bugis singgah (mampir) di Wadeng pada tahun 1126 masehi, sebagaimana tertera dalam naskah Sureq La Galigo. Ketika itu Sawerigading dipisahkan dari saudara kembarnya oleh kedua orang tuanya yakni Batara Lattu dan isterinya bernama Wedatu Sengeng. We Tenriabeng tetap tinggal di Ware' sementara Sawerigading dibawa ke suatu tempat yang subur dan diberinama Wadeng. Negeri Wadeng juga dikenal oleh masyarakat purbakala sebagai tempat yang subur dengan sebutan Wadda. Disitulah Sawerigading dibesarkan, sebab menurut tradisi kuno di tanah Luwu (Ware') peristiwa kelahiran kembar emas merupakan gejala alam, yaitu pertanda akan timbul malapetaka. Hal itu dianggapnya suatu kejadian yang tabu dalam kehidupan atau tradisi masyarakat kepurbaan. Riskan untuk dipertahankan karena kedua anak itu suatu saat akan saling jatuh cinta jika tidak dipisahkan sejak dini. Kebiasaan seperti itu senantiasa melanda bagi sepasang anak kembar emas menjelang usia dewasa.

(Bersambung)