Klaster Lamuta III Desa Hutabohu Raih BI Award, BI Gorontalo: Bukti Penerapan Metode Digital Farming

Klaster Lamuta III Desa Hutabohu Raih BI Award, BI Gorontalo: Bukti Penerapan Metode Digital Farming

GOSULUT.ID - Klaster Lamuta III di Desa Hutabohu, Limboto Barat, Kabupaten Gorontalo menjadi Klaster Ketahanan Pangan Terbaik Nasional dalam ajang Championship Klaster untuk kategori sub sektor tanaman pangan, yang telah diumumkan pada acara Pertemuan Tahunan Bank Indonesia 2021 di hadapan Presiden Republik Indonesia 24 November 2021 yang lalu.

Hal ini diungkapkan Kepala Perwakilan BI Gorontalo, Budi Widihartanto saat Penyerahan saat Penyerahan BI Award Klaster Ketahanan Pangan Terbaik Nasional sekaligus melaunching Gerakan Wakaf Produktif Di Gorontalo, Senin (10/1/2022).

Dikatakan, Raihan prestasi ini merupakan bukti keseriusan petani di Gorontalo dalam mengelola pertanian yang inklusif, produktif, dan inovatif dengan memanfaatkan berbagai teknologi, baik dalam hal teknologi pemuliaan tanaman, pengolahan lahan, penggunaan digital farming dalam upaya peningkatan hasil produksi, serta penggunaan pupuk organik dalam mengatasi kelangkaan pupuk dan upaya efisiensi biaya produksi.

"Prestasi tersebut juga merupakan bukti atas koordinasi, sinergi dan kolaborasi yang telah dilakukan oleh berbagai pemangku kepentingan yang dengan semangat gotong royong memberikan dukungan dan perhatian untuk meraih hasil yang terbaik," Sambungnya.

Berdasarkan pada pengukuran panen dari Tim Ansa School bersama BPP selaku mitra Bank Indonesia dalam mengembangkan pertanian Gorontalo, menunjukan hasil yang sangat baik karena produktivitas mencapai di angka 8,37 Kg/6,25 m kuadrat atau jika dikonverasi ke hektar adalah sebesar 13,4 ton/Ha. Hasil panen tersebut mencerminkan peningkatan 243% dari sebelum implementasi digital farming dan juga metode organik, karena Klaster Lamuta III biasanya hanya mampu produksi 5,5 ton/Ha. 

Hasil produktivitas ini diapresiasi oleh Tim Ansa karena Hasil ini lebih tinggi dari Cirebon 11 ton/Ha dan Sultra 10,5 ton/Ha. Lebih lanjut, penggunaan total organik mampu menurunkan biaya produksi Hingga 50% bagi kelompok Lamuta III sehingga lebih menguntungkan.

Prestasi ini membuktikan bahwa penggunaan metode Digital Farming dibarengi dengan metode Total Organik mampu meningkatkan produktivitas lahan sekaligus mengurangi biaya operasional. Sebagi informasi tambahan bahwa penggunaan total organik tidak hanya untuk lahan komoditas tertentu, selain padi bisa juga untuk cabai, bawang, tomat, berbagai sayuran dan tanaman lainnya. Sejatinya, petani sangat diuntungkan karena dengan bertani menggunakan metode total organik para petani bisa maju tanpa tergantung pada pupuk kimia bersubsidi.

Manfaat dengan diimplementasikannya digital farming pada operasional pertanian adalah mempermudah pemantauan dan monitoring informasi kondisi dan kebutuhan lahan yang lebih tepat secara real time. Ketepatan penyampaian informasi kepada petani yang menggarap lahan akan mempercepat pengambilan langkah preventif maupun represif terhadap masalah dalam penggarapan lahan.

Selain itu, informasi yang real time tersebut dapat membuat penggunaan pupuk, pembasmian hama, dan pengairan menjadi lebih efisien. Hasilnya, akan produksi pertanian tentunya akan meningkat dengan biaya pengelolaan yang semakin efisien.