REFLEKSI AWAL TAHUN, SOAL POSISI KANDIDAT MUSLIM DALAM PILWAKO MANADO.

REFLEKSI AWAL TAHUN, SOAL POSISI KANDIDAT MUSLIM DALAM PILWAKO MANADO.

Oleh : H. Abid Takalamingan, S.Sos, MH. 

Tokoh Muslim Sulawesi Utara


GoSulut.Id - Manado : Sejak isu pilkada serentak 2020 termasuk pilwako kota Manado dari jagad medsos sampai warung kopi pada pertengahan 2019 mulai ramai di perbincangkan. 

Sebagaimana kita pahami bersama bahwa salah satu pengertian umum politik adalah ilmu atau seni mengelola kemungkinan-kemungkinan. Khusus kota Manado isu tentang kemungkinan muslim masuk dalam pertimbangan kontestasi pada pilwako Manado tahun 2020, menjadi perbincangan paling menarik perhatian adalah kemungkinannya muslim menjadi calon 02 utk berpasangan dengan 01 yang berasal dari kristiani.

Kemungkinan 02 lebih menarik bukan karena muslim merasa inferior sebagaimana alasan subyektive dari beberapa figur yang menurut saya terlalu naif akan tetapi ini karena kesadaran mengambil posisi 02 lebih obyektive dari perspektive kemungkinan dibanding memperbincangkan calon untuk 01.

Mengapa? Ada beberapa alasan objektive yang melatarinya :

Pertama ; lemahnya infra struktur politik ummat Islam. Misalnya PAN, PKS dan PPP hanya memiliki 6 kursi dari 8 kursi sebagai syarat untuk mengusung pasangan calon dan pada saat yang sama mrk terkendala untuk menyatu oleh aturan mekanisme internal masing-masing dalam mengusung calon.

Kedua  : Dalam pendekatan logika ideologi secara elektoral ummat Islam berada di kisaran 38% dari jumlah populasi pemilih yang ada di kota Manado. Ketiga ; Penguasaan terhadap aset aset  finasial yang terbatas yang dimiliki oleh kandidat dari muslim sehingga menyulitkan kandidat untuk melakukan manuver lebih luas dalam rangka mempengaruhi jagad politik (pilwako).

Beberapa alasan diatas membuat isu tentang 01 menjadi tidak relevan dalam kontestasi politik lokal kota Manado dari perspektive "kemungkinan" untuk terjadi. Sebagai catatan pernah ada tapi kemudian larut ditelan ketidakpercayaan disamping memang tidak menjual sebagai sebuah isu dalam kacamata objektivitas "praktis politik" ditengah budaya politik yang cenderung liberal dan pragmatis.

Sementara pada posisi 02 lahir bakal calon yang cukup banyak, bak cendawan di musim hujan. Semua kalangan ummat baik individu maupun institusi merasa punya peluang untuk direkrut oleh calon pasangan 01 bersama partai pengusung yg nyata nyata secara infra struktur jauh lebih siap untuk mengusung calon apakah secara sendiri atau nanti harus berkoalisi untuk mencukupi syarat yang diatur oleh regulasi/aturan main.

Pandangan saya sebagai seseorang yang banyak terlibat secara langsung pada situasi-situasi seperti ini menganggap bahwa apa yang terjadi adalah masih dalam kerangka yang wajar dan normal-normal saja disamping memang semua pihak punya hak dan tentu punya espektasi ditengah kemungkinan peluang yang memang menurut hemat saya juga sangat terbuka. Bagi saya apa yang terjadi hari ini dari para bakal calon papan dua muslim bisa di ilustrasikan sebagai anak-anak sungai yang nanti saatnya akan menuju kepada satu muara yang akan menyatukan semuanya. Tentu saja sebagai catatan ada saja yg akan "mbalelo", tapi menurut saya tak signifikan, dan dalam ilmu sosial hal itu bisa di nafikan.

Jadi.silahkan saja tak perlu baperan, menjatuhkan dan silahkan bermain mencari pengaruh dengan berbagai cara selama itu tidak keluar dari koridor permainan. Semua kandidat punya kadar pengetahuan dan cara yang berbeda memaknai ini semua, dan itu sangat tergantung kepada pengetahuan dan pengalaman masing-masing pada wilayah ini. Sebab, bagaimanapun "politik" masih memberikan ruang yang terbuka lebar untuk melakukan cara, manuver, agitasi, lobbying disamping politik juga memberikan jejak pada jam terbang seseorang yang menentukkan caranya memainkan perannya sebagai pemain (politisi).

Wallahu'alam. Wassalamualaikum wr wb. (**)