Prof Nelson Pomalingo Menjadi Pemateri di KNK

Prof Nelson Pomalingo Menjadi Pemateri di KNK
Prof Nelson Pomalingo Menjadi Pemateri di KNK

Manado – gosulut.id –  gosulut.id - Bupati Gorontalo Nelson Pomalingo saat menjadi pemateri pada kegiatan Konferensi Nasional Kelapa (KNK ) IX & International Coconut Conference tahun 2018 di manado, jumat (16/11).

Dalam materinya Prof Nelson Pomalingo menyampaikan , pertama kopek ingin melihat fakta perkembangan Kelapa, kedua kenapa kopek dibentuk dan ketiga bagaimana kolaborasinya.

Lebih lanjut Nelson Pomalingo mengatakan, pertama kita membuat semangat dulu Fakta tentang kelapa. Secara historis kelapa ini kita kenal, bahkan sumpah palapa itu menyatukan nusantara dengan melalui  kelapa.

" kita juga bisa melihat relif candi borobudur ada kelapa,  melihat pahlawan dan tokoh-tokoh nasional lahir dari daerah-daerah  penghasil kelapa, bukan itu saja, emas di monas itu  kontribusi karena kelapa, jika dilihat dari historis itu, maka inilah kontribusi -kontribusi daerah penghasil kelapa, papar nelson.

"lebih menggembirakan lagi kelapa itu 98 persen dikuasai oleh rakyat, karena membangun rakyat berarti membangun kelapa," Katanya

Nelson menjelaskan manfaat kelapa begitu banyak, termasuk nilai eksport kelapa sekarang mencapai 30 triliun dibanding dengan kopi yang membumi saat sekarang masih 19 triliun. Maka peluang kelapa menjadi produk unggulan masih sangat luar biasa.

Tetapi, kata Nelson  menjadi problema saat ini, daerah- daerah penghasil kelapa, membiarkan peluang itu. Dengan adanya potensi yang ada, maka 248 pemerintah daerah penghasil kelapa (kopek) diseluruh indonesia bertekad mengeroyok bersama kemajuan peningkatan produksi kelapa di daerah masing masing.                               ”bisa lihat saat ini, banyak Pemerintah Provinsi yang tidak peduli terhadap produk-produk itu, sehingganya Pemerintah Kabupaten yang mengambil alih membangun produk-produk itu melalui potensi yang ada”ujar Nelson

Diakhir materinya dalam kegiatan Konferensi Nasional Kelapa (KNK ) IX & International Coconut Conference , Nelson menyampaikan dana dari pusat sangat terbatas, yakni hanya 20 ribu HA setiap tahun revitalisasinya, padahal yang hilang 48 ribu Ha, maka pemerintah daerah ingin mengambil dan berkontribusi dalam pengembangan kelapa ini.

Peluang daerah penghasil kelapa sangat banyak, seperti kerjasama dengan AIBBC, sirac ,dengan Balai Palma, bahkan kami sekarang sementara menyusun kerjasama luar negeri. Contoh, baru -baru ini Menteri Tanzania datang di Gorontalo yang ingin belajar pengembangan kelapa termasuk juga menjajaki kerjasama dengan pihak swasta.

Oleh karena itu, Nelson menyarankan, kedepan sangat perlu dilakukan kerjasama revitalisasi pembibitan, sebab pemerintah daerah kesulitan dalam bibit, walaupun daerah punya uang, tetapi didalam membeli bibit kelapa yang disertfikasi sangat sulit.

 

" Kami berharap banyak melalui Balai Palma dan Perguruan Tinggi untuk mendorong sertifikasi bibit-bibit unggul Indonesia, termasuk melakukan identfikasi," Harap Nelson

Bahkan kerjasama ini sudah dibicarakan dengan Siraj dan Perancis untuk mengidentifikasi kelapa yang ada di indonesia.

Dalam rangka meningkatkan produktifitas, ada beberapa yang  menjadi problema, diantaranya  adalah teknik penanaman, jarak tanam dan sebagainya.

Tapi saat ini Pemerintah Kabupaten Gorontalo sedang melakukan pengembangan program kelapa padi dibawah tegakan kelapa di areal 50 Ha yang sementara dikembangkan. Kesemuanya bantuan dari pemerintah pusat dan itu kami akan tularkan di semua daerah di Indonesia.

Guna menunjang semua program ini, harus di tunjang dengan pembangunan irigasi, pengembangan industri terpadu atau industri rumahan di saat pasca panen serta proses pemasaran yang membutuhkan otoritas kelapa dan pendanaan dari pihak bank.

“Semoga ini menjadi terobosan bagi pemerintah pusat, agar pengembangan kelapa bisa dilakukan melalui kerjasama dengan pihak swasta, sebagai partner dalam membangun kelapa di daerah,” tandas Nelson di akhir materinya.(Ih-03)