NARASI ‘KETAKUTAN’

NARASI ‘KETAKUTAN’

OLEH : RILY GOBEL, SE.

Direktur Eksekutif “RIGO INSTITUTE”

Penulis dalam menghadirkan karya pena, kerap terjebak pada  mewakili pikiran dan perasaannya sendiri, lumrah jika hal itu sering terjadi sebab nalar dan jiwanya acap kali dominan mempengaruhi pilihan-pilihan keputusan, tapi biasanya nalar lebih agresif mengolah obyek tulisan dengan konten phenomena terkini dan berpengaruh pada kehidupan social masyarakat, dengan pemilihan topic cenderung merangsang pikiran dan energy obyek secara massive, bisa bias kalau narasi yang dihadirkan lebih mewakili pikiran dan kejiawaan penulis, jika kecenderungan isi kesannya tendesius maka obyek juga menyimpulkannya dengan emosional yang akhirnya propokatif, idealnya, narasi harus bersih dari kepentingan yang kecenderungannya tidak memiliki effect (manfaat),  bahkan kepentingan kekuasaan sekalipun.

Peristiwa besar seperti propaganda politik, dalam skala Politik Internasional doyan sekali menghadirkan Narasi-narasi “Ketakutan”, sebut saja Colin Powell Sang Jenderal asal Amerika Serikat, disaat percaya dirinya pudar ia diserang rasa takut berlebihan atas gerakan Pemberontakan Irak, dalam pikirannya Amerikan hancur, maka untuk meredam rasa takut ia kemudian membuat scenario lucu ‘ya’ kesannya ‘lucu’  dengan menunjukan Sebuah tabung kecil berisi bubuk putih, sambil berujar ‘Senjata pemusnah massal’ kalimat itu  mentok dan tidak ada penjelasan lebih lanjut terkait isi tabung itu, tidak jelas apakah benda itu berasal dari Irak, hal itu menjadi tidak penting dalam strategis komunikasi Powell, dalam Narasi Teror, data dan fakta tidaklah penting, statistic yang dilebih-lebihkan, bahasa yang ambigu dengan mendistibusi ketakutannya kepada orang lain agar semua orang amerika ketakutan seperti dirinya, dan dampak emosional-lah yang menjadi senjata utama.

Narasi yang sama pernah digunakan oleh Donal trump, awalnya, ia mengipasi ketakutan terhadap imigran gelap dari meksiko. Setelah itu Donal kerap mengungkit terorisme dan ketakutan terhadap umat Islam, padahal nota benenya Islam tidak bermasalah dengan Amerika, disaat bersamaan orang Amerika memandang Islam Sarang terorisme, sehingga menjadi tidak pantas untuk diterima menjadi bagian dari penduduk Amerika, padahal narasi cenderung fitnah dan tendesius itu sangat jauh dari kenyataannya (berdasarksan Data dan Fakta).

Hal lain yang dilakukan oleh Donald Trump, dengan menebar ketakutan terhadap tenaga kerja asing (warga imigran Muslim, Latin, kulit hitam, dan warga minoritas AS lainnya) yang dianggap telah mencuri lapangan pekerjaan warga kulit putih Amerika Serikat, hingga ketakutan terhadap Tiongkok yang disebut Trump sebagai pelaku utama yang menggerogoti ekonomi AS, berhasil membawa Trump meraih kursi kekuasaan.

Riset Pew Research Center menyebutkan menjelang pemilu mayoritas (78 persen) pemilih Trump percaya bahwa kondisi Amerika semakin memburuk

dengan meningkatnya kejahatan dan kriminalitas. Padahal sejumlah data resmi menyebutkan bahwa kondisi Amerika saat itu berada dalam kondisi yang relatif aman. Persepsi akan ketakutan dan pesimisme dalam benak masyarakat lebih banyak diciptakan oleh narasi-narasi dan diskursus media, terutama yang direproduksi oleh Trump yang menjadikan isu destabilitas politik dan ekonomi sebagai fokus kampanye. Hal yang sama juga dilakukan oleh Hitler. Dengan menyulut ketakutan masyarakat Jerman akan munculnya revolusi komunis dan dominasi Yahudi, Hitler dan Partai NSDAP berhasil meningkatkan elektabilitasnya hingga berhasil duduk di kursi kekuasaan.  Politik ketakutan inilah yang berpotensi membawa kondisi saat ini pada apa yang dikatakan Graham Allison sebagai Thucydides Trap dimana ketakutan masyarakat yang direkayasa digunakan sebagai instrumen untuk meraih kekuasaan. Seperti apa kata Thucydides, bahwa ketakutan adalah unsur pembentuk kekuasaan, Fear is the Source of Power

 Sehingga narasi tersebut bukan mengantarkan masyarakat ke dalam penjelasan yang rasional melainkan justru bermaksud merangsang sisi emosional masyarakat sehingga menciptakan ketakutan dan keresahan. Narasi yang kerap muncul dalam isu Politik Sandra, Mapia Politik, Politik Ras, dan issue sejenis lainnya, justru mempropokasi masyarakat untuk memahami masalah politik itu tidak rasional dan jauh dari kata sesungguhnya, yang ada hanya merangsang sentimen dan emosi rasa takut yang berhujung membenci politik itu sendiri, dan penciptaan rasa takut ini bukanlah hal yang baru. Dalam sejarah politik, rasa takut masyarakat seringkali dikonversi menjadi suara elektoral oleh sejumlah politikus untuk meraih kekuasaan, akhirnya karena rasa takut yang berlebihan, kekuasaan jadi tidak berkuasa, semoga……Berjumpa Berikutnya