Kisah Pilu Keluarga Korban Pencabulan di Talaud Yang Mencari Keadilan Kepada Penegak Hukum

Kisah Pilu Keluarga Korban Pencabulan di Talaud Yang Mencari Keadilan Kepada Penegak Hukum

Foto : Surat pernyataan akan bertanggung jawab oleh tersangka BL alias Beny kepada ibu Korban Alni Businti

Peliput : Frendy Sapoh

GOSULUT TALAUD - Keinginan hati Alni Businti (39) warga desa Dampulis Kecamatan Nanusa, Kabupaten Kepulauan Talaud, yang merupakan ibu dari SRH alias Rahel (17) korban pencabulan anak dibawah umur, untuk mendapatkan keadilan terhadap persoalan pidana yang dialami keluarganya, kian pupus.

Pasalnya, pihak Kejaksaan Negeri Kepulauan Talaud sudah tiga kali mengembalikan berkas perkara dugaan tindak Pidana Pencabulan Anak Dibawah Umur yang diduga dilakukan oleh tersangka BL alias Benny, yang terdaftar sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) di jajaran Sekretaris Dewan Kabupaten Kepulauan Talaud ke pihak Polres Kepulauan Talaud.

Alni pun merasa bahwa kasus ini sudah dijadikan “lahan pencaharian” oleh oknum penegak hukum. “Kami hanya keluarga miskin yang ingin mencari keadilan, atas apa yang telah keluarga kami alami. Tapi ternyata pihak penegak hukum seakan – akan mempermainkan kami. Masakan kasus yang sudah nyata – nyata terjadi dan sudah diakui pelaku, mengapa tidak diproses, jangan – jangan sudah ada permainan antara penegak hukum dan tersangka,” ketus Alni.

Kepada awak media, Alni menuturkan kejadian tersebut bermula saat dirinya mengetahui bahwa anaknya SRH alias Rahel, sudah mengandung janin hasil hubungan antara korban Rahel dan tersangka Beny.

“Kejadian itu diketahui oleh kami keluarga pada bulan mei 2019, namun ternyata hubungan mereka sudah berlangsung sejak bulan maret 2019. Dan atas permintaan pihak keluarga pelaku bahwa mereka akan bertanggung jawab terhadap korban dan janin yang sedang dikandung korban,” ungkap Alni.

Melihat ada itikad baik dari pihak pelaku, keluarga korbanpun menerima. Dan kedua belah pihak sudah membicarakan acara pinangan dan akan dilanjutkan dengan pernikahan. “Pelaku dan keluarganya sudah membawa tokoh adat dan tokoh agama untuk melakukan pinangan, dan sudah dipastikan pada bulan oktober 2019 akan dilangsungkan pernikahan. Namun ternyata pada bulan oktober 2019 tersebut, sudah tidak ada komunikasi dari pihak keluarga pelaku. Kamipun merasa malu, masyarakat sudah tahu akan menikah, tapi keadaanya ternyata seperti ini,” tuturnya lagi.

Alni pun akhirnya mengambil keputusan untuk berangkat dari Dampulis ke Melonguane, karena korban Rahel akan melahirkan pada bulan desember 2019. “Itu juga karena ayah dari pelaku Beny yang meminta, agar Rahel dapat melahirkan di Melonguane. Namun saat tiba di pelabuhan laut melonguane, tidak satupun dari pihak keluarga pelaku yang menjemput, karena merasa tidak lagi dihiraukan, kami terpaksa mencari rumah keluarga di melonguane untuk menumpang tinggal,” tambahnya.

Yang sangat disesali oleh alni dan keluarganya, bahwa pelaku Beny tak pernah membuktikan itikad baiknya, bahkan hingga anak hasil hubungan mereka lahir pada tanggal 30 Desember 2019, tersangka tak menunjukkan batang hidungnya.

“Dia nanti datang pada saat kami sudah melaporkan kasus ini ke Polres Kepulauan Talaud pada tanggal 11 Januari 2020, itu bersama kakak dan kakak iparnya. Itupun karena untuk meminta maaf dan meminta kami untuk mencabut laporan tersebut. Dengan janji akan menghidupi korban dan anaknya,” imbuhnya.

Namun setelah laporan tersebut di cabut, pihak tersangka dan keluarganya lagi – lagi tak membuktikan apa yang sudah mereka janjikan, padahal tersangka sudah membuat surat pernyataan akan bertanggung jawab kepada korban bermeterai 6000.

“akhirnya kami pihak keluarga meneruskan laporan tersebut. Namun setelah proses pemeriksaan di kepolisian selesai, dan berkas sudah di kirim ke kejaksaan, namun katanya dari pihak kejaksaan masih ada kekurangan, yakni berkas visum sebelum melahirkan, sedangkan laporan di layangkan, pada saat sudah melahirkan,” ketusnya.

“Kami hanya rakyat kecil, rakyat miskin, kalau memang kepada siapa lagi kami akan mencari keadilan, kalau ternyata para penegak hukum akhlaknya seperti ini. Semoga apa yang telah kami alami saat ini, tidak akan dialami oleh mereka dan keluarga mereka,” tukas Alni dengan mata berkaca – kaca.

Pihak Kejaksaan Negeri Kepulauan Talaud, melalui unit Perlindungan Perempuan Anak (PPA) terkesan enggan untuk memberikan keterangan kasus yang sudah tiga berkasnya dikembalikan ini.

“Silahkan menghubungi pihak Polres Kepulauan Talaud, karena berkasnya sudah dikembalikan kepada mereka,” ungkap salah satu staff Kejaksaan Negeri Kepuluan Talaud.

Kapolres Kepualauan Talaud, AKBP. Alam Kusuma S. Irawan, melalui Kasat Reskrim. IPTU. Maulana Miradj membenarkan adanya kejadian ini. “saat ini kasus sudah sementara proses. Melengkapi berkas perkara, karena memang ada beberapa koreksi dan petunjuk, sehingga berkasnya dikembalikan lagi,” ungkap Kasat singkat.