Kepala BP-DAS Provinsi Gorontalo, M. Tahir Himbau Masyarakat Tidak Lagi Menanam Di Kemiringan 30% Ke Atas

Kepala BP-DAS Provinsi Gorontalo, M. Tahir Himbau Masyarakat Tidak Lagi Menanam Di Kemiringan 30% Ke Atas

GOSULUT.ID - KOTA LIMBOTO - Saat ini masalah pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) masih menjadi salah satu yang di serius oleh Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Dan Hutan Lindung Bone Bolango Provinsi Gorontalo, Kamis (9/1/2020).

Saat ini dari begitu banyak kepentingan untuk DAS baik itu masyarakat, pertanian, perumahan dan kepentingan PU. Maka sangatlah penting bagi semua pihak untuk bahu-membahu dalam melaksanakan rehabilitasi DAS itu sendiri.

Saat di temui oleh beberapa awak media, Kepala BP-DAS M. Tahir, P, SP M.Si menyampaikan bahwa masalah pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) adalah tanggung jawab semua pihak.

" Sampai dunia kiamat tidak akan selesai kalau tidak melibatkan seluruh stakeholder yang ada di daerah, baik itu masyarakat sampai kepada pemerintah setempat, kemudian LSM serta yang tidak kalah pentingnya, peran serta wartawan harus mendukung kegiatan ini dalam hal mempublikasikan," jelas M. Tahir saat di wawancarai

Lebih lanjut dikatakan, Tahir bahwa dari sekian banyak DAS, di Provinsi Gorontalo, hanya 27 yang boleh dikatakan masih sehat, kemudian sisanya itu sudah rusak. 

" Ini pengaruhnya karena pada saat musim kemarau terjadi kekeringan pada saat musin penghujan terjadi banjir dan tanah longsor," ucap Tahir.

Pasalnya, menurut Tahir masih ada beberapa orang masyarakat yang berani menanam di kemiringan 30% keatas tanpa mematuhi kaidah-kaidah konservasi tanah dan air.

" Contohnya, membuat teras untuk mempercepat laju erosi yang terjadi. Bukti sekarang kita dari sini jalan dari kota sampai ke Pohuwato, kanan kiri jalan itu sudah ditanami holticultura jagung, dan itu sebagian besar dalam kawasan hutan," papar Tahir.

Sehingganya, lewat kesempatan ini, Tahir menghimbau pada seluruh yang boleh dikata sudah mengenyam pendididkan saat ini, punya tugas untuk melaksanakan penyuluhan pada masyarakat, bahwa apa yang dilaksanakan sekarang ini berakibat fatal untuk kelangsungan hidup di daerah ini. 

“Jadi harapan saya bagi teman-teman mari semua ikut membantu kami dalam hal mensosialisasikan. Kita tidak pernah menyalahkan masyarakat, karena mereka tidak tahu apa yang sekarang dilaksanakan, akibat-nya dapat menimbulkan banjir dan tanah longsor, " ujar Tahir 

Terakhir, Tahir menuturkan, tinggal bagaimana saat ini caranya menyampaikan kepada masyarakat agar supaya tidak lagi menanam jagung dikemiringan 30% keatas.

" Sekarang ini BP-DAS  mencari suatu solusi, bagaimana rehabilitasi dengan membuat suatu program penanaman kawasan hutan dengan system sambil menanam jagung dan tanaman buah-buahan, agar begitu selesai panen jagung masyarakat juga akan menikmati buah-buahan yang mereka tanam itu, " ucap Kepala BPDAS M.Tahir.***