Jootje Tumalun : Harus Ada Efek Jera Bagi Para pelaku Kekerasan Di Wilayah Dumoga

Jootje Tumalun : Harus Ada Efek Jera Bagi Para pelaku Kekerasan Di Wilayah Dumoga

Liputan : Kamal Babay

Editor: Nunu Tangguda

 

 

 

GOSULUT.ID - Bolmong - Maraknya tindak kekerasan di dataran Dumoga, yang berada di wilayah adat Bolaang Mongondow. Sangat-lah meresahkan masyarakat Bolaang Mongondow Raya (BMR), karena dataran Dumoga merupakan jalur transportasi yang menghubungkan ke wilayah Bolaang Mongondow Selatan dan Gorontalo.

Ditemui media GoSulut.ID, pada senin (30/09), Camat Dumoga Timur, Jootje Tumalun mengatakan, kami pemerintah kecamatan terus mencari penyelesaian.

”Apabila terjadi pertikaian antar kampong, yang kerap terjadi di wilayah Dumoga Timur. Maka harus turun langsung ke masyarakat, guna mengetahui akar permasalahan. Karena selama ini pertemuan antar desa, tidak dapat menghentikan pertikaian dan tetap saja terjadi sampai saat ini,” kata Jootje Tumalun.

Waktu turun langsung ke masyarakat yang rawan konflik, permintaan masyarakat adalah lakukan operasi pembersihan senjata tajam, miras dan knalpot racing, sebab ini-lah sumber permasalahan,"ucap Jootje Tumalun.

Selain itu, Camat Jootje Tumalun juga mengatakan, beberapa waktu lalu telah melaksanakan pertemuan dari 5 Desa yang berkonflik. Alhasil pertemuan tersebut, masyarakat meminta agar Kapolsek Dumoga diganti, karena penanganannya yang  lambat dan hari ini telah serah terima Kapolsek Baru.

"Kapolres memberikan apresiasi atas pertemuan itu dan menyetujui permintaan masyarakat dengan kapolsek baru, yang di harapkan semua masyarakat dapat bekerja sama dan membantu memelihara keamanan,"Sambungnya.

Camat Jootje Tumalun mengharapkan, agar kapolsek yang baru dapat menetap di wilayah Dumoga, agar segala penanganan kejadian dapat di tindak secara cepat. Dan paling utama, ada efek jera bagi pelaku tindak kekerasan di Wilayah Dumoga.

"Harus ada efek jera bagi para pelaku,  karena  di wilayah Dumoga ini setiap ada baku potong, penyelesaiannya hanya dengan baku bayar, yang akhirnya terus berulang sampai saat ini,"tegas Jootje Tumalun di akhir wawancara.***