Isu Adat Diangkat, Mansir: Lawan Nelson Kehabisan Amunisi

Isu Adat Diangkat, Mansir: Lawan Nelson Kehabisan Amunisi

GOSULUT.ID - PILKADA - Menghadapi pesta demokrasi pemilihan Kepala daerah dan wakil kepala daerah di Kabupaten Gorontalo, suhu politik terus menghangat dengan berbagai topik dan isu.

Kurun waktu seminggu terakhir ini, persoalan penting tidaknya keterlibatan pemangku adat dalam pengangkatan seorang camat.

Menurut seorang warga masyarakat Kabupaten Gorontalo, Mansir Mudeng, hal tersebut hanyalah isu yang sengaja ditiupkan oleh lawan politik sang petahana saat ini, Nelson Pomalingo.

Ia beranggapan bahwa barisan lawan politik ini telah kehabisan amunisi untuk menggoyang sang bupati.

"Mereka (lawan nelson-red) sudah tidak punya peluru atau amunisi lagi untuk menyerang," ujar Mansir, Minggu (16/2/2020).

Hingga saat ini lanjutnya, kelemahan Nelson sulit dicari karena seluruh program dan kegiatan yang dilaksanakan berhasil dan banyak prestasi dan penghargaan seperti turunnya angka kemiskinan dengan sangat signifikan.

"Sulit lawan mencari celah untuk masuk menyerang Nelson," katanya.

Mansir mengatakan, semua pihak sepakat pengangkatan camat selama periode pemerintahan ini telah dilaksanakan oleh bupati berdasarkan aturan dan ketentuan.

Penting tidaknya keterlibatan adat dalam proses tersebut, itu hak bupati apakah ia masih memerlukan masukan dari lembaga adat atau tidak sama sekali.

Hal ini juga telah ditanggapi Bate lo Limuto Loloopo Abdul Wahab Lihu saat diwawancarai baru-baru ini.

Di katakan, tidak ada aturan yang mengikat terkait pengangkatan seorang camat harus melibatkan pemangku adat. 

"Jadi tidak apa-apa biar tidak melibatkan pemangku adat dalam pengangkatan seorang camat. Bukan berarti tidak menghargai, hal itu sangat keliru jika demikian," katanya, (15/2/2020)

Menurutnya apa yang dilakukan Bupati Kabupaten Gorontalo Prof. Nelson Pomalingo sudah sesuai dan tidak menyalahi aturan adat yang selama ini.

"Bupati Nelson itu sudah bekerja sesuai aturan yang ada dan telah mengikuti apa yang telah menjadi tradisi yang ada," ungkap-nya. (Hrs/Alwin Ibrahim)

Editor: Harso Utiarahman