Dalam Rangka Memperingati Pembukaan Hari Anak Nasional (HAN), Ketua Tim Penggerak PKK Mengecek Segala Persiapan Acara HAN

Dalam Rangka Memperingati Pembukaan Hari Anak Nasional (HAN), Ketua Tim Penggerak PKK Mengecek Segala Persiapan Acara HAN

Liputan Wartawan : Alwin Ibrahim

Editor : Mnunu Tangguda

 

 

 

 

www.gosulut.id - Limboto - Dalam kunjunganya, Ketua Penggerak PKK, yang juga sebagai Ketua Kuartir Cabang (Kuarcab) Pramuka di sambut meriah peserta pramuka dan sahabat Anak. Kelompok sahabat anak ini, yakni anak-anak yang dari kalangan ekonomi rendah dan putus sekolah.

Kegiatan HAN akan berlangsung esok hari di gedung Gelora David-Tony, inilah mengapa Dr. Fory Naway melihat langsung persiapannya.

Dalam kesempatan ini, istri orang nomor satu di Kabupaten itu, selain menyampaikan motivasi dan semangat pada peserta Pramuka dan Sahabat Anak, juga meminta pada peserta pramuka serta sahabat anak untuk saling memperkenalkan diri, supaya saling kenal mengenal dan larut dalam kegembiraan.

"Jadi lewat kegiatan hari anak ini, kita lebih prioritaskan seluruh kegembiraan, keceriaan untuk anak-anak yang ekonomi menengah ke bawah artinya orang-orang yang memang kurang beruntung," jelas Dr. Forry pada wartawan Gorontalo Sulut News (www.gosulut.id) di Lapangan Sport Center, selasa (06/08).

Selanjutnya, Ketua Tim penggerak PKK mengatakan, sahabat anak itu adalah anak-anak yang putus sekolah dan pembawa jasa yang di ikutkan jumbara 10 orang setiap Kecamatan.

"Lebih banyak anak putus sekolah dan anak-anak pemulung, para pedagang asongan. Dan pembawa jasa di pasar yang menjadi skala prioritas. Karena sangat jelas dia tergolong anak-anak terlantar yang kurang ada perhatian,”Sambungnya.

Dr. Fory Naway menjelaskan, kemudian kita gabungkan kegiatannya dalam jumbara dua hari ini, sebagai penggodokan sosialnya, karakternya dan di berikan ruang motivasi untuk melalui pembauran ini dengan anak-anak pramuka yang lagi aktif sekolahnya, supaya bisa termotivasi untuk mau sekolah lagi,"Tambahnya.

Dr. Forry Naway mengharapkan, bagi yang sama sekali tidak mau sekolah di arahkan ke PKBM untuk ikut paket, kalaupun tidak akan di carikan solusi untuk sahabat anak jangan sampe nganggur.

"Mereka harus dapat pendidikan non formal, tapi bentuknya informal ketambahan dengan skill, sesuai dengan bakat dan kemampuannya. Hal ini, sebagai tahap awal rencana kami, mudah-mudahan tidak ada lagi anak- anak yang seperti ini. Tapi kalaupun ada, berarti menjadi tahap awal pengelompokan atau pengklasteran anak-anak yang ada sekarang, sehingga-nya data ini bisa kami masukkan di Dinas Sosial, Dinas Nakertrans dan instansi lainnya, guna dilatih. Setelah itu diberi bantuan untuk kelanjutan hidupnya," ucap Dr. Forry Naway

Kemudian mereka bukan hanya mendapat pendidikan, namun juga bagaimana bisa merasakan lingkungan sosial dan pergaulan yang cerah ceria untuk anak-anak yang di sebut sahabat anak itu harus terus di edukasi.

"Selama dua hari kita godok dengan satu mengedukasi sosialnya, jadi mereka bisa bergaul serta ceria bersama anak-anak yang masih utuh keluarganya. Intinya mereka tidak merasa bahwa terpinggirkan. Karena memang anak-anak ini tidak ada perhatian dari orang tua dan keluarganya, apalagi status sosial ekonominya menengah ke bawah, jadi kami berikan motivasi, supaya mereka juga masih ada harapan hidup lebih baik,"jelas Dr. Forry Naway.***